DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 4.01 Transitional//EN" "http://www.w3.org/TR/html4/loose.dtd"> Perguruan Pencak Silat BEKSI H. Hasbullah: May 2007
Technorati Profile
Add to Technorati Favorites
Add to Technorati Favorites
Add to Technorati Favorites
SERAMBI KAMI


Nama Perguruan: Perguruan Pencak Silat BEKSI H. Hasbullah

Sekertariat Umum : Jl. Cileduk Raya No. 18A/4 Ruko ITC Cipulir Mas Lt. 02, Cipulir, Kebayoran Lama Jakarta Selatan. 12230, Indonesia

Info & Pendaftaran: Anda Dapat menghubungi: H. Basir, SE 08159953219 atau Endang, S.H 08131666807

Profil Lebih Detail
BERANDA BEKSI

Jakarta & Sekitarnya

MySpace Layouts



BERITA TERKINI

ARSIP BERITA
IDENTITAS ANDA

MySpace Layouts

Myspace layouts

 
 

30 May 2007
Saudara Se-Olah-raGa
SIN LAM BA
From Website: "Sahabat Silat"


sin lam berasal dari Syekh Abdul Karim Banten , Tokoh Tarekat Qadiriyyah terkenal di Asia Tenggara di akhir abad 19. Setelah pecahnya perang Banten yang digagalkan Belanda 1888, putra-putra beliau menyingkir ke pedalaman Karawang utara sekitar 15 km timur laut Rengas Dengklok dan mendirikan sebuah pesantren.
Rombongan ini dipimpin putra beliau yang belakangan dikenal dengan nama Haji Odo (wafat 1930 an dalam usia hampir 100 tahun) yang kemudian memberikan pengajaran ilmu hikmah kepada Pak Toha dari Menteng Dalam dan dilanjutkan oleh 2 tokoh besar yaitu Alm. Haji Harun Ahmad (pendiri Sin Lam Ba) dan Alm. Mohammad Syaki Abdus Syukur (pendiri Al Hikmah yg bertempat tinggal di Cisoka Sukajami Banten. penerusnya anaknya H Romli Ismail)
Sebelumnya, Pak Toha merupakan opsir belanda desersi yg kmudian pergi ke pesantren Haji Odo untuk menuntut ilmu kesaktian. Disini ia tidak langsung diberi ilmu tsb. Namun ia diberi tugas sebagai marbot(penjaga) masjid yg bertugas utk membersihkan masjid dan mengisi air untuk wudlu . Setelah sepuluh tahun tahun berselang barulah Haji Odo mengijinkan Pak Toha untuk mengambil salah satu manuskrip/kitab yg ada di langit langit masjid. Kitab yg dipilihnya berjudul " ilmu yg bekerja jika dizalimi orang lain".
Dalam kitab itu berisi tentang jurus lima dan amalan-amalan doa. Jurus lima ini merupakan jurus wajib yg harus dikuasi setiap murid sin lam ba selain ilmu pencak silat yg setiap kolat memiliki jurus yg berbeda2.
Setelah sepuluh tahun meninggalkan betawi, pak toha kmbali ke rumah orang tuanya. Sesampainya disana ibunya kaget melihat kdatangan pak toha yg dikira telah mati. Stlah mlpa rindu kemudian pak toha mencari kakaknya. Ternyata sang kakak sedang berlatih silat. Tak lama kemudian keduanya terlibat adu silat yg kemdian dimenangkan oleh pak toha dengan ilmu kontaknya, yaitu menjatuhkan lawan dari jarak jauh/tampa menyentuh. Dahulu sin lam ba memang terkenal dengan sebutan ilmu kontak.
Kemudian pak toha mewarisi ilmunya kepada tujuh anaknya yaitu haji mugeni (cang muk), haji harun, haji sarbini (cang sarbini), pak abdul rauf (cang rauf),..........,.............,...............(maaf catatannya ktinggalan he2). Sepeninggal pak toha, ps sin lam ba dipimpin olh alm. H.Harun. note: untuk ps. sin lam ba bisa latihan di smun 44 dan universitas sahid.untuk info lebih lajut bisa hubungi pelatihnya namanya bang udin di no hpnya xxx xxxx.
sumber:pak abdul rauf (sespuh sin lam ba), bang udin (platih sin lam ba)
posted by Perguruan Pencak Silat BEKSI H. Hasbullah @ 9:00 PM   0 comments
Silat Betawi punye Gaye
Dijiwai Semangat Perjuangan
Oleh : AMAL IHSAN

Orang dulu nggak kenal silat. Mereka bilangnya maen pukul. Hujan deras mengguyur pondok berdinding anyaman bambu di depan Book Cafe di Jalan Duren Tiga, Jakarta Selatan, sekitar dua pekan lalu. Petir bersahutan, membuat nyali sedikit menciut. Sebatang rokok keretek dan segelas kopi panas terhidang. Rasa dingin itu perlahan lenyap ketika obrolan mengenai sejarah aliran silat Betawi, Jiencin, mulai mengalir. Sembari menyeruput kopi panas, lelaki setengah baya bernama Muhammad Nurdin seolah tak peduli dengan cuaca di luar. Ia dengan semangat menggerakkan tangannya untuk menggambarkan suasana pertarungan. Mendengar nama Jiencin, orang akan menduga pendiri atau guru besar aliran itu berasal dari Cina. Nyatanya, maen pukulan Jiencin adalah pencak silat dari Betawi.

Nama itu adalah nama ayah saya, almarhum H Husein bin H Utsman, kata Nurdin, ahli waris silat Jiencin yang akrab dipanggil dengan nama Bang Udin. Pada masa mudanya, H Husein biasa dipanggil Bang Encin. Setelah menunaikan ibadah haji, ia dipanggil Ji-Encin (Ji=Haji dan Encin=Husein). Adapun maen pukulan adalah sebutan Betawi untuk pencak silat. Orang dulu nggak kenal silat, mereka bilangnya maen pukul, kata Bang Udin. Menurut Bang Udin, maen pukulan Jiencin adalah aliran yang tumbuh dan berkembang dengan semangat kepemudaan di Betawi. Saat itu ilmu silat dijadikan sebagai pegangan dan sarana perlawanan terhadap penjajah. Hal itu tidak terkecuali bagi Husein. Ia mengabdikan sebagian hidupnya untuk bergabung dengan pergerakan perjuangan membela Tanah Air, bergabung ke Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Karena panggilan dan kebutuhan perjuangan, Husein muda harus bergerilya keluar-masuk kampung atau daerah bersama kesatuannya. Wilayah yang pernah ia lalui antara lain Bekasi, Tambun, Karawang, Cikampek, Cikarang, Bogor, dan Ujung Kulon, Banten.

Dengan keluar-masuk daerah tersebut membuat Husein muda banyak bertemu dengan tokoh silat. Ia banyak mendapat masukan dari hasil tukar pikiran dan berinteraksi dengan tokoh-tokoh daerah. Tidak jarang proses ini didahului dengan saling menjajal ilmu satu sama lain, ucap Bang Udin. Dari pengalaman yang diterimanya, didukung bakat dan kecerdasan beliau, Haji Encin berhasil memadukan beberapa gerakan ilmu silat dari berbagai aliran pencak silat (antara lain Cingkrig, Bandul, Beksi, Suliwa, dan Gerak Rasa) menjadi suatu ilmu silat yang unik dan tidak ada namanya. Kami lalu menyebutnya aliran Jiencin sesuai dengan nama beliau, katanya. Ketika kembali ke Jakarta, bekal pengalaman dan ilmunya mengantarkan beliau menjadi orang yang disegani baik lawan maupun kawan di daerah Kampung Baru (sekarang disebut daerah Warung Buncit), Duren Tiga, Tegal Parang, Pancoran, dan Mampang Prapatan.

Ada satu prinsip yang dipegang teguh aliran ini. Haji Encin selalu mewanti-wanti, Jangan pernah ngejual, tapi orang ngejual kite beli. Maknanya, Musuh jangan dicari. Tapi, bila bertemu, jangan lari. Dengan prinsip itu ditambah dengan ketawaduan beliau, hal itu mempertahankan reputasi beliau yang tidak pernah dijatuhkan lawan, kata Ahmad Fikri, yang menjadi ketua aliran Jiencin. Haji Encin lahir pada 1922 dan wafat pada 2000. Beberapa putranya serta murid beliau meneruskan perjuangannya dalam mengembangkan aliran ini dengan berpusat di Mampang Prapatan XV Nomor 20, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Karakter 12 jurus aliran Jiencin adalah mengandalkan permainan tangan yang cepat dan keras.

Setiap pukulan dan gerak harus berisi tenaga, kata Bang Udin. Selain itu, pukulan juga dengan gerak badan yang cepat dan keras. Di tingkat awal diajarkan latihan keterampilan pematangan jurus pukul, pertahanan kaki, dan ngeles atau kemampuan menghindari serangan. Di tahap akhir, dilakukan latihan pengembangan rasa yang berfungsi melatih refleks mengantisipasi serangan lawan. Selain itu, sebagai ilmu gabungan, aliran jiencin memiliki teknik lengkap, dari pukulan, kuncian, tangkisan, hindaran, dan sikutan, kecuali tendangan. Tendangan tinggi tidak ada, hanya tendangan dengan lutut ke arah kemaluan dan sapuan ke arah kaki lawan. Sebagai tambahan, selain dibekali teknik bela diri, murid aliran Jiencin mengenal amalan. Caranya adalah dengan menggelar pengajian rutin sebelum latihan fisik dan olah pernapasan dengan zikir sesudah latihan. Ini sesuai dengan tujuan ajaran silat ini, memperteguh iman Islam, kata Fikri
posted by Perguruan Pencak Silat BEKSI H. Hasbullah @ 8:49 PM   0 comments
Asah KARSA
LANGKA ATAU TIDAK TAU?
perlu dilestarikan menurut saya adalah pandangan yang salah kaprah, Karena silat bukanlah barangan yang langka. Disemua wilayah negeri tercinta ini , sedikitnya ada satu aliran silat. Silat harus lestari dan dicintai di negeri tercinta ini. Oleh karena itu hadirnya forum pelestari dan pecinta silat tradisional (FP2ST) adalah langkah maju dan positip dalam upaya membuat silat sebagai olahraga beladiri dan seni menjadi lestari, bahkan memposisikan silat tradisional menjadi asset budaya yang memiliki tingkat keluhuran budi pekerti yang tinggi. Tidak satupun warganegara Indonesia yang tidak mengenal silat. Semuanya kenal. Tetapi tidak semuanya dalam artian banyak yang tahu apakah silat itu. Anggapan bahwa silat adalah olahraga keras, olahraga resiko tinggi, olahraga mematikan, olahraga laga yang difahami masih melekat dan terposisi di benak masyarkat. Kesan semacam ini terjadi mungkin disebabkan oleh pengaruh media yang menayangkan cerita laga yang penuh kekerasan, sehingga menurunkan citra cita rasa olahraga beladiri secara umum. Kalau kita bicara soal resiko tinggi. balap mobil, power boat, akrobat, panjat tebing, memilik resiko yang tidak kalah tingginya dibanding dengan silat. Silat sebagai seni dan beladiri kita yakini telah berusia ribuan tahun, dimana ada kehidupan budaya di suatu wilayah negeri kita, dipastikan disitu ada silat. Oleh karena itu silat adalah produk budaya yang memiliki nilai luhur. Naluri manusia untuk mempertahankan diri untuk tidak di dzalimi oleh spesies lain ( sejenis, atau hewan) adalah sesuatu yang sangat wajar. Mengingat dalam diri manusia tidak memiliki senjata. Berbeda dengan hewan seperti ular dengan upas yang mematikan, macan dengan cakarnya dan taring yang kuat, gajah dengan tenaga yang kuat. Manusia cuma memiliki tangan, kaki dan kecerdasan. Memanfaat kaki, tangan dan kecerdasan dalam melindung diri agar tidak di dzalimi inilah yang membuat manusia menjadi unggul diantara spesies lain dimuka bumi. Omong besarnya manusia menjadi khalifah di planet bumi. Menyadari atas keterbatasan manusia, baik jangkauan dan tenaga maka diperlukan pengaturan gerak yang efisien, Gilbreth seorang penemu teori industrial engineering, menyatakan bahwa dari 17 gerak dasar manusia, hanya 8 gerak saja yang memiliki nilai tambah. Kelak dikemudian hari dikenal dengan istilah Therblig analisys. Dengan menggunakan gerak yang memiliki nilai tambah maka disipasi tenaga bisa dikurangi secara significant. Tidak keras tetapi efisien. Dan ini merupakan seni / arts dari silat. Pertanyaanya dimana letak seninya ? Disipasi (penghamburan) tenaga akan menurunkan kecepatan gerak dan memandulkan reflek. Letak seninya berada pada menurunkan keterampilan gerak yang tidak perlu... (susah kan membayanginya). Yang lebih penting adalah bagaimana gerak silat memanfaatkan gerak yang tidak perlu sebagai gerak untuk menghindari benturan fisik. Disitulah letak seninya. Tidak diperlukan tapi dipulung agar memiliki manfaat tinggi. Setiap gerak silat memiliki harmony / selaras dengan lingkunganya, seperti tepak 2 (tarik, tahan), tepak 3 ((pukul (maju), tarik (mundur), tahan (diam)), menjadikan gerak silat terlihat indah, akan lebih terasa indah jika di iringi musik yang di aransemen sesuai dengan ritme gerak. Sehingga menimbulkan sensasi yang spesifik. Benang emas yang ingin dipaparkan disini, adalah bagaimana memposisikan silat tradisional sebagai seni dan olahraga beladiri agar dicintai oleh masyarakat kita. Jauh dari kesan gagah2an, jauh dari kesan kekerasan, jauh dari kesan pede yang berkelebihan. Kalau kita bicara soal cinta, maka rasa yang ada didalam sini, adalah rasa keindahan, rasa ayom, rasa memperoleh pengakuan, Oleh karena itu, kalau kita cinta pada silat tradisional, kita harus mengenalkan silat tradisional dengan cita rasa keindahan, cita rasa ayom, cita rasa untuk diakui, sebagai penetrasi kebutuhan dasar seperti yang disebut pada hierarki Maslow yang menyatakan bahwa kebutuhan rasa aman (security feeling) adalah kebutuhan berikutnya setelah kebutuhan dasar, dan kebutuhan untuk diakui telah dicapai. Wassalam Bambang Sarkoro
posted by Perguruan Pencak Silat BEKSI H. Hasbullah @ 8:27 PM   0 comments
25 May 2007
silat Luar Negeri
Mengenal AIKIDO - Jalan untuk Menerima

AIKI KYUKENKAI AIKIDO Tangan lawan terjulur hendak menjangkau lengannya. Tapi sang guru tidak mengelak. Hanya dengan memiringkan bahunya, musuh terdorong dan jatuh. Tanpa sedikit pun tersentuh. Silat tenaga dalam? Bukan. Itulah salah satu teknik tingkat tinggi yang bisa dipelajari di aliran Aiki Kenkyukai, yang berarti Komunitas Studi Aikido. Sesuai dengan namanya, kami tidak hanya mengajarkan soal teknik, tapi juga menekankan soal spirit dan filosofi, kata pemimpin Kenkyukai, Sensei Imanul Hakim. Menurut Hakim, saat ini ada tiga karakter pendidikan Aikido. Pertama, yang mengajarkannya hanya sebagai olahraga biasa. Kedua, yang mengajarkan Aikido sebagai ilmu bela diri atau fighting art.
Ketiga, yang mengajarkannya sebagai jalan hidup atau way of life. Aikido sebagai jalan hidup itulah yang sebenarnya diajarkan oleh pendirinya, Sensei (Guru) Morehei Ueshiba (1883-1969). O Sensei, panggilan Ueshiba, sebenarnya adalah sebuah cara bagi seseorang untuk mencapai kesadaran fisik dan spiritual yang lebih tinggi. Dengan latihan, konsep yang rumit menjadi bisa dipahami dan begitu juga sebaliknya, kata Hakim. Hakim mengaku semula sempat frustasi ketika belajar Aikido. Banyak yang tidak saya mengerti dan terkesan seperti bohong-bohongan, katanya. Ia menemui pencerahan ketika pergi ke Malaysia untuk menemui Sensei Koichi Inoe dari aliran Yoshinkan. Pencerahan lebih didapatnya ketika berguru kepada Sensei Takehisa Kino%@!#$&a dari aliran Shin Shin Toitsu Aikido selama 5 tahun dan belajar lagi dari banyak guru di Jepang. Saya akhirnya mengerti, Aikido berarti the way to except atau jalan untuk menerima, katanya. Dalam tataran filosofis, ini berarti diperlukan sebuah cara untuk mencapai harmonisasi dengan ki. Ki bisa didefinisikan sebagai energi kehidupan, kata Hakim.
Karena itulah dikenal Aiki Genri atau prinsip pedang Aiki, yakni Ki No Awase (Harmonisasi Ki), Ki No Musubi (Mengikat Ki), Ki No Nagare (Mengalirkan Ki), dan Takemusu Aiki (unlimited creative energy of Aiki). Adapun dalam aplikasi praktis, jalan untuk menerima berarti agresi dari musuh diterima dan kemudian dinetralkan. Kalau seorang aikidoka sudah berhasil mencapai harmoni dengan ki, Energinya bisa mengikat dan menyatu dengan energi lawan, kata Hakim. Pada saat itu, menjatuhkan lawan tanpa menyentuhnya bukan hal yang sulit. Hakim mengingatkan pencapaian teknik bukanlah tujuan, tapi memiliki nilai bushido atau kekesatriaan dalam segenap aspek kehidupan. Jalan untuk menerima, misalnya, bisa diterjemahkan sebagai jalan untuk menerima ketentuan Yang Maha Pencipta.
Artinya kita harus berusaha melaksanakan dengan ikhlas setiap perintah Sang Pencipta dan menerima dengan ikhlas setiap ketentuan atau takdir yang digariskan Sang Pencipta kepada kita, katanya.
Penulis AMAL IHSAN Koran Tempo edisi 4 Maret 2007
posted by Perguruan Pencak Silat BEKSI H. Hasbullah @ 5:09 PM   0 comments
Laporan Tentang Silat
MAENPO CIANJUR - Kelestariannya Mulai Tergerus
itu menaiki tangga. Sedikit tertatih. Tubuh kurusnya doyong ketika berdiri. Tapi, begitu gendang ditabuh, dengan tangkas ia melayani serangan. Lawannya lebih besar dan muda. Tak jadi masalah. Geraknya cepat. Tangannya berkelebat menyerang. Lawan pun jatuh. Tepik sorak dan tepuk tangan langsung bergemuruh di Gedung Kesenian Cianjur pada akhir pekan lalu. Tak sedikit yang berdecak kagum. Gan Ita Sasmita, lelaki tua itu biasa dipanggil. Dia adalah salah satu sesepuh aliran pencak silat Cikalong. Umurnya 84 tahun. Meski uzur, Kalau sudah ulinan (bermain silat berpasangan), langsung keluar lincahnya, kata sesepuh aliran Sahbandar, Memet M. Tohir. Gan Ita menjadi salah satu penampil pada malam gelar seni untuk menyambut rombongan Wisata Silat 2007 dari Komunitas Sahabat Silat (Jakarta) dan tamu Presiden Persekutuan Silat Antarbangsa Eddie Nalapraya.
Tujuan dari wisata silat ini adalah untuk menggali kembali kekayaan budaya pencak silat tradisional di Cianjur, ujar aktivis komunitas, Ki Sawung. Cianjur memang terkenal kaya warisan budaya pencak silat. Menurut Bupati Tjetjep Muchtar Soleh, pencak silat, atau maenpo dalam bahasa Sunda, adalah budaya yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Cianjur. Sebagian menyebutnya amengan atau ulinan, katanya. Keseluruhan warisan budaya ini sudah berlangsung lama ketika Cianjur menjadi salah satu pusat kebudayaan dan peradaban di tatar Sunda pada zaman dulu.
Kota yang berada di ketinggian sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut itu didirikan oleh Raden Aria Wiratanu Datar, putra dari Raden Arya Wangsa Goparana, keturunan penguasa Kerajaan Talaga. Aria Wiratanu Datar lantas mendirikan kerajaan di Cianjur yang mandiri atau tidak berada di bawah Batavia (Belanda) ataupun Mataram, Banten, dan Cirebon. Belanda pun mengakui eksistensi negeri Cianjur. Buktinya, Gubernur Jenderal Cornelis Speelman mengundang Raja Cianjur untuk menghadiri serah-terima jabatan gubernur jenderal. Arya Wiratanu Datar wafat pada 1691 dan dimakamkan di Cikundul. Salah seorang keturunan Arya Wiratanu, Raden Djaja Perbata atau Haji Ibrahim, menciptakan aliran silat baru setelah melakukan khalwat (mengasingkan diri) di sebuah gua di Kampung Jilebut di tepi Sungai Cikundul Leutik di wilayah Cikalong Kulon. Sebelum menyempurnakan gerakannya, Haji Ibrahim sempat berguru pada beberapa orang, terutama Bang Kari dan Bang Madi dari Betawi. Aliran silat ini kemudian disebut Cikalong. Pada masa yang sama, ada tokoh silat yang juga memiliki bela diri yang istimewa. Dia adalah Muhammad Kosim, seorang perantau dari Pagaruyung, Sumatera Barat. Dia tinggal di Kampung Sabandar, Cianjur. Haji Ibrahim kala itu mendapati bahwa beberapa muridnya juga belajar pada Mamak (sebutan untuk orang tua di Sunda) Kosim, yang kemudian dikenal dengan sebutan Mamak Sabandar.
Kedua pendekar besar tersebut akhirnya bertemu. Keduanya pun mengakui keunggulan masing masing. Kesimpulannya, mereka tidak bisa saling mengalahkan. Karena generasi kedua aliran Cikalong banyak belajar kepada Mamak Sabandar, gaya Cikalong otomatis dipengaruhi oleh aliran Sabandar ini. Semuanya terpengaruh oleh katumanan (kebiasaan yang baku), lampah (gerak langkah), dan tabeat (pembawaan sifat) Sabandar, kata sesepuh Sabandar, Pepen Effendi. Itu sebabnya karakter aliran yang ada di Cianjur dipastikan mengikuti kaidah dua guru utama Cikalong, yakni Madi dan Kari, ditambah dengan Sabandar.
Sabandar mengalirkan tenaga lawan dengan menggunakan gerakan dasar, Madi digunakan membendung tenaga lawan lewat gerakan yang terlatih, sedangkan Kari adalah untuk melumpuhkan lawan dengan menyerang titik kelemahan tubuh, ujar Pepen. Secara geografis, ada tiga tempat utama penyebaran aliran maenpo di Cianjur. Cikalong banyak dipelajari dan dikembangkan di Pasar Baru Cianjur.
Sabandar lebih banyak digandrungi di Bojong Herang. Cikaret merupakan tempat aliran Kari berkembang. Aliran Kari Cikaret dikembangkan oleh Aa Oha dan saudaranya, Aa Aman. Walaupun dipengaruhi oleh Cikalong dan jurus lima Sabandar, Cikaret menitikberatkan pada permainan Kari atau perpeuhan (pukulan). Karena itu, sedikit berbeda dengan aliran lain yang lembut, jurus-jurus Cikaret justru sangat keras dan cepat, ujar Wak Dudun, sesepuh Cikaret. Sampai saat ini perkembangan ketiga aliran di Cianjur itu masih terjaga dengan baik di lingkungan pusatnya masing-masing. Meski begitu, para sesepuh mulai prihatin.
Sebab, sedikit generasi muda yang menaruh perhatian terhadap silat tradisional ini. Walau pencak silat diajarkan di tingkat sekolah dasar, setelah dewasa, banyak dari mereka yang tidak lagi berminat untuk mempelajari pencak silat. Jika saja suatu saat generasi sepuh seperti Gan Ita Sasmita sudah tiada, entah siapa lagi yang akan melestarikan budaya asli Cianjur ini.
posted by Perguruan Pencak Silat BEKSI H. Hasbullah @ 5:02 PM   0 comments
12 May 2007
Geliat sang silat
BIKIN HIDUP LEBIH INDAH

Kalau melihat peta penyebaran pencak silat khususnya di Indonesia, pada dasarnya masih cukup kuat dan eksistensinyapun masih ada, walupun dalam kenyataan yang kita lihat begitu redupnya kegiatan pencak silat yang sampai-sampai nampak begitu jenuh. Hal ini ada beberapa factor utama yang mendasari keredupan dunia pencak silat antara lain :
Melupakan fungsi utama pencak silatSiapapun mengenal silat sebagai ilmu beladiri tradisional, yang selama ini oleh IPSI dikemas menjadi bagain dari olahraga prestasi, sehingga dominasi silat lebih berorientasi pada sportnya saja, sehingga terlupakan fungsi beladiri yang sesungguhnya. IPSI sendiri menyadari hal ini namun untuk tujuan kompetisi olahraga prestasi dalam pencak silat akan menumbuhkan semangat pelajar dan mahasiswa untuk mengenal pencak silat.

Melupakan akar beladiri tradisionalBanyak orang menilai silat tradisional seperti melihat tari-tarian yang seolah bukanlah olahraga beladiri murni, salah kaprah ini memang mendasar, karena hampir sebagian besar silat tradisional beladiri praktisnya tidak dapat dipertandingkan khususnya dalam aturan main di IPSI, jadi Seninya saja yang diangkat menjadi bagian dari silat tradisional. Padahal kebanyakan beladiri tradisional secara fakta dan data memiliki beladiri yang dapat disejajarkan dengan beladiri impor sekalipun, sayangnya tidak semuanya dapat digali dan diperlihatkan.

Egoisme dan Fanatisme perguruan.Fanatisme sesungguhnya menjadi hal wajib bagi pesilat untuk mengenal asal-usulnya (jatidirinya) hampir semua pesilat lahir dari perguruan besar maupun kecil. Dan melalui fanatisme ini diharapkan pesilat mempu mengoptimalkan apa yang didapat diperguruannya dan menjadi dasar baginya mengenal pencak silat secara umum. Sayangnya fanatisme yang tumbuh malah menjadi boomerang bagi pencak silat secara keseluruhan, misalnya saja, sifat Ego dalam diri pesilat yang susah menerima atau di ajak kerjasama dengan perguruan lain, seolah ada tembok yang membatasi geraknya,
Yang sering ditemui adalah ketertutupan terhadap dunia luar, tidak bisa atau tidak mau bekerjasama dengan perguruan lain karena merasa perguruan lain adalah saingannya atau musuhnya. Dan masih banyak lagi lainnya, seperti seorang wasit yang akan berat sebalah bila yang bertanding adalah satu perguruannya, Manusiawi memang, tapi apakah itu tujuan fanatic yang diajarkan? Kami rasa bukan. Karena ini akan menurunkan rasa kepercayaan kepada pencak silat.
Lalu bagaimana seharusnya berbuat untuk kemajuan pencak silat bersama, tentunya masing-masing perguruan mengajarkan bagaimana agar pesilatnya mampu memiliki rasa rendah hati, dan berwawasan luas, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya dan tidak hanya mencintai perguruannya kerana fanatic semata, tapi bagaimana mencintai silat sebagai bagian dari kecintaannya, sehingga tidak ada lagi rasa menutup diri atau susah bila diajak bersama-sama membagun pencak silat tanpa melihat identitas perguruan pesilat lain.

Andaikan seluruh pesilat mampu diajak bekerjasama maka tidak ada lagi kata “kepentigan perguruan” karena perguruan sesungguhnya adalah jalan dimana pesilat mengenal dunia yang sesungguhnya. Dan bila Sumber daya ini dapat menetralisir dalam sebuah organisasi maupun komunitas, maka kekuatan pencak silat lebih maju dibandingkan hanya satu perguruan besar yang hidup sedangkan yang lainnya musnah tanpa bekas. Mengapa? Karena kita masih memikirkan bagaimana agar perguruan kita hidup, bukan lagi berfikir bagaimana pencak silat bisa hidup bersama.
posted by Perguruan Pencak Silat BEKSI H. Hasbullah @ 9:18 AM   0 comments
10 May 2007
2 milyar
HIBURAN BUAT TEMEN-TEMEN
Beragam acara hiburan memang makin bersaing di dunia perTelevisian dalam negeri baik infotaimen, sinetron, Bioskop layar perak yang memutar film-film yang sukses di layar lebar ataupun acara Talk Show yang tambah semarak sejak Empat Mata hadir menjadi salah satu program acara vavorite pemirsa TV7 & dengan slogan khas nya Tukul Arwana (Pembawa Acara)kembali ke laptop menjadi lebih familiar di setiap obrolan masyarakat antar kalangan. Disamping itu tidak kalah menarik adalah program bagi hadiah lewat berbagai segmen acara kuis. Yang mungkin tidak pernah kita lewatkan serunya seperti Who want to Be a Millionaire sempat ngetop di RCTI beberapa waktu silam tapi sepertinya sudah sedikit tergeser setelah adanya acara Kuis yang serupa Superdeal 2 Milyar di ANTV. Beberapa hari lalu tepatnya di akhir pekan Pencak Silat juga di tunjuk untuk berkesempatan meramaikan acara garapan FREMANTLE Media Production tersebut. Melalui acara itu Pencak Silat yang di wakili oleh Forum Pecinta Pelestari Pencak Silat Indonesia secara tidak langsung berkesempatan untuk Mejeng(Bergaya) di depan pemirsa ANTV se Indonesia, suatu kehormatan memang setidaknya bagi kalangan Pecinta Pencak Silat se-Nusantara karena ternyata Pencak Silat tidak di lupakan di samping beladiri-beladiri Import yang berkembang di Negeri kita. Meskipun tidak berhasil membawa hadiah 2 Milyar yang di janjikan, tapi setidaknya Pencak Silat turut menjadi warna diantara para peserta lain yang kebanyakan dari kalangan Atlet dan Olahragawan tingkat Nasional. Beberapa komunitas Gaul Jakarta dan bebrapa Olahragawan yang turut memeriahkan acara dari team atlit Nasional diantaranya dari cabang Anggar, Angkat Besi , Karateka, dan BaseBall. Tidak ketinggalan dari team Petinju Nasional yang di wakili oleh bung Kris Jon beserta official mewakili petinju Nasional yang lain, teman-teman dari PERSIJA dan Ibu-Ibu pecinta Bulu Tangkis serta dari racing teamnya PERTAMINA juga ikut serta, tidak kalah ramai rekan-rekan dari Komunitas Jablayers Jakarta yang genit-genit menambah hangatnya suasana akrab di sela-sela Shooting berlangsung, eeiit!!! tapai jangan salah sangka dulu ya... karena para Jablayers yang di sini bukan Jablayers Murahan Lho!?. (*Off the record) Satu lagi yang cukup menjadi sorotan buat kami, salah satu diantara para olahragawan ada serombongan Bapak-Bapak dan Kakek-kakek dari Komunitas Pecinta Sepeda Balap yang sangat antusias meramaikan acara akhir pekan ini di ANTV, kebanyakan anggotanya adalah mantan-mantan pembalap Sepeda Nasional dan daerah di sekitar kota Bandung. Meski usianya ada yang sudah jadi kakek tapi jangan salah kalo semangatnya tidak kalah dengat atlit-atlit muda Nasional kita yang tentu saja masih ABG. Tidak menyurutkan antusias mereka saat mereka gagal dalam salah satu permainan yang di sajikan Superdeal 2 Milyar paling tidak mereka bisa berjumpa langsung dengan pembawa acaranya yang ganteng (Niko Siahaan)dan menjadi pengalaman yang tak terlupakan mereka sudah ikut masuk TV serta tampil dalam acara tersebut bersama para pecinta Olahraga dari cabang lain, pastilah menjadi kesan khusus setelah acara usai. Benar memang apa kata salah satu Sahabat Silat(panggilan bagi sesama pecinta pencak silat) yang kita panggil saja namanya Mas Wiwit, dalam wawancara singkatnya Wiwit berpendapat; bahwasanya salah satu jalan mempopulerkan Pencak Silat adalah melalui kerjasama dengan media massa baik cetak maupun elektronik, salah satunya ya...melalui Kuis ini atau acara yang serupa seperti Infotaiment yang lain, karena dengan begitu kita secara tidak langsung ikut memberikan warna baru sekaligus memberi tahu pada masyarakat bahwasanya Pencak Silat kebanggaan kita tidaklah punah seperti yang di katakan segelintir orang melainkan masih tetap eksis hingga kini. Tidak ada yang salah memang kita berpendapat seperti apa , tapi fakta juga perlu di kabarkan ke semua pihak agar tidak terjadi salah tafsir karenanya seperti yang ada dalam benak sebagian masyarakat kita. Selepas dari semua itu, kembali yang perlu kita pikirkan bersama adalah bagaimana langkah selanjutnya bagi para pecinta Pencak Silat agar sekaligus bisa berperan sebagai pelestari salah satu warisan budaya yang sarat falsafah dan tradisi ini menjadi tetap eksis di masa datang. Mungkin jawabnya selain tetap menjalin kerjasama dengan berbagai pihak termasuk media masyarakat baik cetak atau elektronik serta pentingnya menumbuhkan kecintaan dan kesadaran pada masyarakat kita untuk bisa menjadi pangkal keoptimisan terhadap Pencak Silat supaya tetap bisa terus ikut Unjuk Gigi di tengah-tengah masyarakat Indonesia.*(DanuLelana)
posted by Perguruan Pencak Silat BEKSI H. Hasbullah @ 10:21 AM   0 comments
07 May 2007
silatku....
SILAT TRADISIONAL BELA DIRI YANG MURNI
Silat sejak lama memiliki ke khas dalam teknik beladiri, olahraga ini memang tidak hanya menampilkan jurus beladiri namun juga kaidah berupa gerakan dan teknik. hingga prasangka orang awam maupun praktisi beladiri lain yang mengenal pencak silat hanya dari kulitnya saja akan menilai pencak silat sebagai olahan gerak yang bertele-tele. hingga seorang praktisi beladiri dari mancanegara (luar negeri) yang biasa mendalami beladiri kareta, menilai bahwa silat tidak ubahnya seperti tarian yang tSilat Tradisional sebagai ilmu beladiri yang murniidak efektif sebagai beladiri. hal ini menunjukkan kurang pahamnya mereka terhadap beladiri silat, dan penilaian lainnya adalah bahwa silat lebih bagus ditonton sebagai beladiri hiburan yang mampu dipragakan di atas panggung dimana pesilat tersebut sudah hapal dengan teknik yang dipragakannya. dan memang jurus pencak nan indah bagi mata orang awam gerak tersebut layaknya sebuah tarian yang lincah, indah dan tidak nampak pukulan yang keras seperti beladiri pada umunya yang menampakkan kekuatan fisik semata.
Namun jangan salah sangka gerak tarian tersebut adalah rangkain sebuah jurus yang dipertontonkan kepada masyarakat agar lebih mengenal kembali pencak silat yang sempat terlupakan oleh kita semua, tentunya itulah silat tradisional yang akhir-akhir ini kembali dihidupkan melalui ragam festival yang berlangsung beberapa waktu lalu. Ada pertanyaan yang perlu dijawab, apakah silat tradional mampu menjadi beladiri yang ampuh?, bila diteliti lebih dalam maka kita bisa menjawab bahwa silat tradisional bukanlah hanya sebuah tarian pencak yang dipertontonkan sebagai hiburan tapi terbukti bahwa silat tradisional mampu sebagai beladiri yang sesungguhnya. Bila sempat terbenam dari gemerlapnya beladiri Import, silat tradisional memiliki mainan gerak beladiri yang ampuh, serangan maupun pertahanan sebagai teknik beladiri ternyata dapat mampu melumpuhkan lawan dengan hanya beberapa gerakan saja. Sayangnya silat tradisional tidak mampu membuktikan keperkasaannya dalam kancah olahraga beladiri prestasinya IPSI karena pada umumnya silat tradisional memang lebih mantap dalam pertarungan bebas, dan sayangnya dipertarungan bebaspun belum banyak pesilat yang mau menunjukkan bahwa silatpun ternyata adalah Ilmu beladiri yang ampuh. Ragamnya aliran pencak silat di Nusantara membawa kekayaan tersendiri dalam pencak silat, sehingga IPSI yang merupakan lembaga atau organisasi resmi yang mewadahi perguruan ataupun perkumpulan pencak silat di Indonesia membagi pencak silat menjadi 4 bagian yang tidak bisa dipisangkan. 4 bagian tersebut antara lain, Olahraga, Beladiri, Seni, Mental dan Spritual. 4 bagian ini biasa dikenal menjadi aspek atau kandungan pencak silat yang telah dirumuskan dengan penelitian yang mendalam, untuk menjadikan silat sebagai salah satu cabang beladiri IPSI melalukan rumusan olahraga prestasi dalam bentuk pertandingan, dengan aturan dan keamanan yang menjamin Atlit dari cidera. Tidak ketinggalan dengan Silat dalam seni, yang sejak lama menjadi ciri khas yang tidak bisa dipisahkan, selain mengandung unsur kesenian yang bercitra rasa tinggi menyebabkan silat membawa misi yang unik selain pestasi namun juga filosofi yang tidak bisa dipasahkan dari pencak silat itu sendiri. Lalu bagaimana dengan beladiri dalam pencak silat, yang nyatanya unsure beladiri sedikit terlupakan atau memang tidak menjadi pembinaan khusus menyebabkan pencak silat kehilangan imege sebagai beladiri yang murni dan bahkan seolah-olah di kebiri dengan antusiasnya pesilat maupun perguruan yang berorientasi prestasi menyebabkan unsur beladiri yang ada dalam pencak silat menjadi sedikit hilang. Kalau pun demikian silat tradisional yang banyak orang sangka lebih memfokuskan pada seni yang nyatanya silat tradisional malah lebih menyimpan dan menjaga kemurnian pencak silat dalam kegiatan dalam latihannya. dan ini bisa kita lihat dari beberapa aliran silat tradisional yang telah di coba digali kembali kandungannya. Penyebutan silat tradisional lebih memfokuskan pada perkembagan dan organisasinya, karena hampir dipastikan seluruh silat itu adalah tradisional hanya saja perbedaan pengelolaan yang baik menjadikan silat tersebut lebih modern dan berkembang dengan pesat dan silat yang hadir dalam organisasi keluarga inilah yang kadang disebut sebagai silat tradisional yang kurikulumnya pun terkadang belum ada hingga cara pengajarannya pun masih sangat terbatas. Tinggal saatnya bagaimana melestarikan dan membuktikan bahwa silat tradisionalpun mampu berperan sebagai pelopor beladiri yang dapat di%@!#$& karena memang memiliki kekhasan dalam tekniknya. Tentunya silat tradisionalpun adalah asset bangsa yang harus dijaga oleh kaum muda, dan kapan kita bisa menjaganya?
posted by Perguruan Pencak Silat BEKSI H. Hasbullah @ 10:26 AM   0 comments

GURU BESAR
  • Alm. Lie Ceng Oek
  • Alm. Ki Marhali
  • Alm. H. Ghazali
  • Alm. H. Hasbullah

KOMENTAR ANDA
MySpace Layouts

MySpace Layouts