BERBAKTILAH ENGKAU KEPADA SESAMA INSAN
" Berbaktilah Engkau Kepada Sesama Insan " Kunjungi Website kami di: www.silat-beksi.com

27 May 2010

Geliat Silat BEKSI

Geliat Silat BEKSI
Sejumlah ilmu beladiri, seperti karate, judo, taekwondo, sudah menjadi kegiatan ekstrakulikuler baik di SD, SMP dan SMU di Jakarta. Pencak silat yang merupakan kebudayaan bangsa sendiri, juga ikut menjadi kegiatan eskul.

Namun rupanya, tidak semua jenis pencak silat mantap bertahan. Silat Betawi seperti Beksi, rupanya agak terseok-seok untuk maju."Hambatan pencak silat, seperti Beksi (pencak silat khas Jakarta) ini, kurangnya manajemen organisasi dengan baik, belum lagi soal dana," kata Ketua Umum Perguruan Pencak Silat (PPS) Beksi H Hasbullah, Haji Basyir, dalam obrolannya bersama detikcom di kediaman dan padepokannya di Jl KPBD, Kampung Baru, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (25/5/2010).

Pencak silat Beksi, lanjut Basyir, saat ini baru diajarkan di tiga sekolah, yaitu di Putra Satria, Maambaul Ulum dan SMUN 90 Petukangan, Jakarta Selatan. Beksi diharapkan bisa memasuki semua sekolah di DKI Jakarta, karena merupakan bagian dari kebudayaan Betawi."Tidak tertutup kemungkinan kita bisa mengajak Dinas Pendidikan agar ini dijadikan kurikulum. Tapi kita harus berbentuk lembaga hukum, seperti yayasan. Ini sedang kita rintis," terangnya.

Basyir mengakui anak muda memang kurang berminat mempelajari silat Beksi. Apalagi di Jakarta, banyak ilmu beladiri luar negeri yang baru masuk dan dianggap lebih modern misalnya saja Capoeira dari Brazil.

Para guru silat Beksi pun melakukan sejumlah modifikasi dengan membuat formasi jurus, agar silat Beksi lebih mudah dipelajari."Kalau orang sudah tahu kegunaan atau makna jurus itu, akan lebih tertarik. Orang Swedia saja ada yang belajar, karena tekniknya tidak kalah dengan Aikido dan Jujitsu. Jurus kunciannya mematikan juga," tegasnya.

Silat Beksi adalah hasil akulturasi budaya Betawi dan China. Dahulu, penciptanya adalah Lie Cheng Oek, warga keturunan China dari Kampung Dadap, Tangerang Banten. Silat Beksi kini sudah diajarkan sekitar empat generasi, termasuk salah satu cabangnya, silat Beksi Haji Hasbullah yang merupakan murid Lie Cheng Oek.

Para murid silat Beksi mencoba membangun komunikasi terutama dengan generasi tua, namun itu bukan perkara gampang."Orang Betawi kan adatnya, siapa elu mau ajak-ajak gue?" kata Basyir.Basyir mengakui, orang mulai tertarik belajar silat Beksi karena ketokohan guru besar PPS Beksi H Hasbullah yang menampilkan silat Beksi dalam film 'Darah Muda' yang dibintangi Rhoma Irama. "Belum lagi adanya film Si Pitung, termasuk sinetronya di televisi, itu ada pengaruhnya juga," kata Basyir yang saat ini berprofesi sebagai pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat itu.

Sementara, Koordinator Pelatih PPS Beksi H Hasbullah, Endang (42) juga menambahkan, saat ini pihaknya tengah mengajukan sejumlah proposal kepada seluruh sekolah yang ada di DKI Jakarta. Isinya antara lain, mengajukan agar silat Beksi bisa mendapatkan tempat sebagai pelajaran tambahan."Beksi, atau silat lainnya sebenarnya bisa menjadi media dakwah, pembinaan mental. Bukan berarti belajar silat, itu siswa diajarkan berantem, tawuran. Justru sebaliknya, bagaimana mengendalikan emosi dan mental. Silat itu olahraga dan seni juga," terangnya.


Sumber: http://m.detik.com/read/2010/05/26/163110/1364615/159/menabur-benih-pendekar-muda

Melestarikan silat BEKSI

Ciaat! Silat Betawi Rasa Shaolin

Kalau menyebut kata 'pendekar', yang terbayang adalah orang kekar berwajah garang. Senjata tajam entah pisau atau golok, mungkin terselip di pinggang. Namun dua pria yang ditemui detikcom, jauh dari kesan itu.

Yang satu tinggi berkacamata, satu lagi pendek dan agak gemuk. Keduanya ramah dan banyak guyon. Rasanya hampir tidak percaya kalau mereka adalah pendekar pencak silat Beksi dari Betawi."Wah kirain belum sampe, nyok masuk," sapa Haji Basyir (41) dengan logat Betawi kental kepada detikcom di rumahnya di Jl KPBD, Kampung Baru, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (25/5/2010).

Haji Basyir adalah Ketua Umum Perguruan Pencak Silat (PPS) Beksi H Hasbullah, sementara temannya Endang, adalah Koordinator Pelatih di PPS Beksi H Hasbullah. Dalam obrolan sore itu, Basyir membandingkan pencak silat dengan karate, taekwondo dan sejumlah beladiri lain yang menjadi eskul di sekolah."Di Jakarta, pencak silat jarang jadi eskul di sekolah kalau dibanding olah raga bela diri dari luar. Aneh kan? Padahal silat adalah budaya bangsa sendiri," kata Basyir.

Pencak silat, juga merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari budaya Betawi. Basyir menjelaskan silat Betawi tidak hanya Beksi. Menurut Basyir, ada juga silat Cingkrik, Kotek, Honje, Golok Seliwa dan Mustika Kwitang. Belum lagi, silat Cimande asal Jawa Barat dan Banten yang ikut meramaikan khasanah ilmu beladiri di Jakarta, namun lagi-lagi pamornya dikalahkan dengan ilmu beladiri dari China, Jepang, Korea dan Brazil.

Banyak juga perguruan yang bubar atau hilang, ketika sang guru meninggal. Para pengurus Beksi kini berencana membuat yayasan agar bisa mempertahankan paguyuban para pendekar Beksi."Kita sudah masuk Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), tapi Beksi belum bisa ikut pertandingan. Kita dianggap keras tekniknya, padahal pertandingan ini menjadi salah satu cara mempopulerkan Beksi," ungkapnya panjang lebar.

Di tengah obrolannya itu, Basyir dan Endang pun memperaktekkan beberapa jurus Beksi. Gerakannya cepat dan banyak permainan tangan. Sekilas jadi mirip dengan aikido, bela diri kegemaran aktor Steven Seagal. "Gerakan dan jurus Beksi murni kekuatan fisik, kecepatan berpikir untuk melumpuhkan musuh. Jadi, kita tidak menggunakan ilmu tenaga dalam," tegasnya.Dalam Beksi ada ada 9 formasi, 12 jurus dan 6 jurus kembangan yang harus dikuasai setiap murid.

Beksi mengandung filosofi dari setiap hurufnya, 'Berbaktilah Engkau Kepada Sesama Insan'. Filosofi ini menjadi landasan kebijaksanaan para pendekar Beksi. Sementara kata 'Beksi' aslinya berasal dari bahasa China, Bek berarti pertahanan, Si berarti empat. Sehingga Beksi berarti empat pertahanan. Kenapa memakai bahasa China? Rupanya silat Beksi adalah hasil akulturasi budaya China dan Betawi.Basyir pun mengisahkan, silat Beksi diciptakan Lie Cheng Oek, warga keturunan China yang tinggal di Kampung Dadap, Tangerang, Banten. Lie adalah seorang pendekar silat beraliran Shaolin Utara di China. "Beliau diakui bersama sebagai guru besar yang pertama di Indonesia. Tepatnya di wilayah Tangerang dan Jakarta yang daerahnya dihuni oleh komunitas masyarakat etnis Betawi," ujarnya.Ilmu Lie Cheng Oek diturunkan ke anaknya Lie Tong San, dan lalu diturunkan lagi ke cucunya, Lie Gie Tong.

Selain itu, Lie Cheng Oek juga punya beberapa murid lain yaitu Ki Marhali, Engkong Haji Ghozali dan Engkong Haji Hasbullah. Lie Gie Tong pun mengakui ketiga orang ini sebagai pewaris ilmu sang kakek. Pencak silat Beksi banyak berkembang di Jakarta Selatan seperti di Cipulir, Kebayoran Lama, ada juga di Bintaro, Karawang dan Bekasi.

"Harapan kita, agar Beksi atau pencak silat lainnya tidak hilang ditelan zaman dan kalah dengan bela diri asing yang masuk ke sini," ujar Basyir berharap.Baysir mengatakan, Beksi juga digemari oleh orang asing. Silat Beksi juga sudah dipelajari sejumlah orang dari beberapa negara. "Nah, kenapa kita sendiri tidak mau belajar silat? Gerakan dan jurus kita berbeda, nggak apa-apa. Yang penting, pencak silat tetap jadi tuan rumah di negeri sendiri," ungkapnya.

Sumber: http://m.detik.com/read/2010/05/26/162101/1364601/159/ciaat-silat-betawi-rasa-shaolin

20 May 2010

Maudy Koesnadi Pentaskan 'DOEL'

Maudy Kusnaedy tampilkan budaya betawi!!

Sukses mementaskan 'Cinta Dasima', artis Maudy Koesnadi kembali jadi produser. Kali ini, dia memproduseri sandiwara musikal Betawi berjudul, "DOEL: Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik".

Sandiwara berdurasi dua jam ini dipentaskan oleh Ikatan Abang None Jakarta. Sejumlah bintang juga ikut memberi warna. Ada Adam Jordan, Alya Rohali, Atalarick Syah, dan Adjie Pangestu
"Ini merupakan bentuk perhatian dan apresiasi penuh kita sebagai warga Jakarta untuk melestarikan budaya asli Betawi, "ujar Maudy kepada pewarta di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat 14 Mei 2010.

Sandiwara ini terinspirasi film "Si Doel, Anak sok Modern " yang pernah sukses pada tahun 1973.

"Disini Doel menghadapi jaman modern, sebagai pahlawan sehari-hari," ujar Maudy.

Soal pemilihan tema, Maudy mengaku ingin menyuguhkan alternatif lain untuk mengenal kebudayaan Betawi. Tak melulu bersumber dari legenda Betawi.

"Ini  menjadi alternatif untuk mengenal budaya Betawi dari sisi lain," kata pemeran Zaenab dalam 'Si Doel Anak Sekolahan' itu.

Sejumlah tokoh nampak hadir dalam pagelaran ini. Ada Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, Wakil Bupati Tangerang Rano Karno -- lawan main Maudy dalam 'Si Doel Anak Sekolahan'.

Gubernur Fauzi Bowo mengaku bangga dengan pertunjukan malam ini. "Penghargaan saya kepada semua pihak yang telah berusaha penuh mewujudkan acara ini. Saya berterima kasih kepada Mpok Maudy," kata Fauzi Bowo.
mementaskan 'Cinta Dasima', artis Maudy Koesnadi kembali jadi produser.

Kali ini, dia memproduseri sandiwara musikal Betawi berjudul, "DOEL: Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik".

Sandiwara berdurasi dua jam ini dipentaskan oleh Ikatan Abang None Jakarta. Sejumlah bintang juga ikut memberi warna. Ada Adam Jordan, Alya Rohali, Atalarick Syah, dan Adjie Pangestu

"Ini merupakan bentuk perhatian dan apresiasi penuh kita sebagai warga Jakarta untuk melestarikan budaya asli Betawi, "ujar Maudy kepada wartawan di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat 14 Mei 2010.

Sandiwara ini terinspirasi film "Si Doel, Anak sok Modern " yang pernah sukses pada tahun 1973.

"Disini Doel menghadapi jaman modern, sebagai pahlawan sehari-hari," ujar Maudy.

Soal pemilihan tema, Maudy mengaku ingin menyuguhkan alternatif lain untuk mengenal kebudayaan Betawi. Tak melulu bersumber dari legenda Betawi.

"Ini menjadi alternatif untuk mengenal budaya Betawi dari sisi lain," kata pemeran Zaenab dalam 'Si Doel Anak Sekolahan' itu.

Sejumlah tokoh nampak hadir dalam pagelaran ini. Ada Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, Wakil Bupati Tangerang Rano Karno -- lawan main Maudy dalam 'Si Doel Anak Sekolahan'.

Gubernur Fauzi Bowo mengaku bangga dengan pertunjukan malam ini. "Penghargaan saya kepada semua pihak yang telah berusaha penuh mewujudkan acara ini. Saya berterima kasih kepada Mpok Maudy," kata Fauzi Bowo.

17 May 2010

Pelestarian Budaya Betawi

Memodifikasi Kreasi Seni Tari Silat Betawi agar Tetap Dicintai


DI era globalisasi sekarang ini tidak mungkin lagi bisa dibendung masuknya berbagai produk budaya luar negeri ke Indonesia. Apalagi di kota Jakarta, pintu gerbang pertama yang merasakan dampak "penjajahan budaya" tersebut. Kiat-kiat apakah yang seharusnya dilakukan untuk mempertahankan berbagai budaya asli karya leluhur kita agar tetap lestari? Salah satu karya yang dibanggakan masyarakat Jakarta hingga saat ini adalah seni silat Betawi.

Berbagai usaha melestarikan seni budaya Betawi agar digemari generasi muda di Ibu Kota terus dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman (Disbudmus) DKI Jakarta. Caranya, dengan menggali kembali khasanah budaya Nusantara tersebut, kemudian memodifikasinya hingga melahirkan kreasi baru.

Dan itu bisa dilakukan melalui eksperimentasi oleh para ahlinya. Ini dimaksudkan agar kesenian tersebut mudah diterima dan digemari generasi muda sehingga di masa mendatang tetap eksis. Salah satu seni budaya Betawi yang kini sudah tidak dikenal lagi, paling tidak jarang, adalah seni silat aliran Beksi. "Beksi artinya 'berbaktilah engkau kepada sesama insan'," kata Kepala Seksi Pengkajian dan Pengembangan Kesenian Disbudmus DKI Jakarta, Drs Suwarno, belum lama ini.

Tetapi versi lain mengatakan, Beksi berasal dari kata-kata China: bek berarti 'pertahanan', dan si berarti 'empat'. Maksudnya empat penjuru mata angin. Jadi rangkaian dua kata tersebut berarti silat pertahanan diri dari empat penjuru mata angin. Guna melestarikan silat Beksi itu, dan se-kaligus untuk menambah khasanah seni tari Betawi, maka Disbudmus melakukan eksperimentasi tari berbasis silat Betawi. Penggarapan ini sudah dilakukan sejak lebih dari sebulan lalu oleh para pakarnya, yaitu penata tari Djoko Histi Maryono SSn, Teguh HS, bersama pelatih dari perguruan silat Beksi

Purbakala, Madih Kumed, dengan jago pencak silat Beksi, Yusuf, yang juga pemain Lenong. Eksperimen dilakukan di Laboratorium Tari dan Karawitan Condet, Bale Kambang, Jakarta Timur, yang melibatkan puluhan penari putra dan putri dari mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan pemain Wayang Orang Bharata serta para pemain musik Betawi, dan berlangsung selama sekitar satu bulan. Dari sepuluh kali latihan, terlahirlah dua judul tari masing-masing Jurus Silat Betawi dan Tari Silat Beksi yang digelar di panggung Laboratorium Tari dan Karawitan Condet, Jakarta Timur, Senin (26/6) malam lalu, kemudian dikaji bersama-sama. Kepala Subdinas Pengkajian dan Pengembangan Disbudmus DKI Dra Tinia Budiati, tiga pengamat yakni Wiwiek Sipala, H Yoyok Muchtar, dan Dewi Hafianti, serta ratusan penonton, mengamatinya dengan seksama penampilan para penari. Tinia menilai, seni silat Betawi aliran Beksi ini cukup menarik gerakannya. Apalagi bila ditarikan dengan iringan musik Betawi.

Namun sayangnya pencak silat Beksi ini kurang dikenal masyarakat. Menurut Tinia, melalui tarian hasil eksperimentasi tersebut terlihat keunikan dan keindahannya walaupun belum optimal. Oleh karena itu, upaya pelestarian seni budaya ini tetap dilanjutkan dengan perbaikan. "Untuk disuguhkan dan dikembangkan kepada generasi penerus, masih perlu dikemas kembali," kata Tinia Budiati. Wiwiek Sipala, seorang koreografer senior, menilai, secara keseluruhan tari tersebut menarik karena bercerita dengan runtut.

Namun disayangkan, tari karya Teguh dan Djoko Histi Maryono itu 80 persennya masih merupakan gerakan pencak silat. Sedangkan tariannya hanya 20 persen. Penarinya juga terlihat berekspresi tegang. "Ini tarian, bukan menghadapi musuh," ujarnya mengingatkan. Karena itu penata tari ini mengharapkan agar unsur gerakan pencak silatnya dikurangi menjadi 30 persen saja sehingga gerakan tarinya diperbanyak menjadi 70 persen. Haji Yoyok mengingatkan, pencak silat Betawi tidak sama dengan pencak silat Sunda yang diiringi gendang pancak. Iringan pencak silat Betawi harusnya samprah dan kroncong. Sedangkan Dewi Hafianti, yang memiliki latar belakang seni silat Minangkabau, menilai para penari perempuan yang berkostum merah terlihat kurang rendah posisi kuda-kudanya. Seorang anggota Sanggar Setu Babakan Perkampungan Budaya Betawi, Kelurahan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, Asmaningsih, menyambut gembira tari kreasi baru tersebut. "Kami sangat senang adanya tari berbasis silat Betawi ini," katanya. Penata tari Djoko HM mengakui, untuk kostum sengaja lengan kurang longgar. Sebab, bila lengannya dibikin longgar, terkesan mereka bukan penari, melainkan pesilat. Tetapi bila lengannya disempitkan, gerak penarinya kurang leluasa. 
 
Sementara itu, tampaknya ada hubungan antara melestarikan budaya seni tari silat Betawi dan prestasi para pesilat seni (tunggal, ganda, regu) yang dibina Pengurus Daerah Ikatan Pencak Silat Indonesia (Pengda IPSI) DKI Jakarta. Pesilat Betawi memang selalu mendominasi medali emas di arena PON. Di ajang PON XVI, di Palembang 2004 lalu, pesilat DKI Jakarta merebut tiga medali emas dari pertandingan seni tunggal, ganda, regu (TGR). Artinya, generasi muda DKI Jakarta memiliki potensi besar untuk berprestasi di bidang seni silat Betawi dan seni pencak silat yang dibina IPSI. (Yon Parjiyono)

Festival Kota Tua

Warga Roamalaka Gelar Festival Kota Tua
 
Untuk meningkatkan promosi pariwisata di kawasan Kota Tua sekaligus mengangkat perekonomian warga sekitar, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat bersama Himpunan Pemberdayaan Masyarakat (HPM) Roamalaka menggelar Festival Passer Malam Wisata Kota Tua di Jl Kali Besar Barat, RT 06/03 Kelurahan Roamalaka, Tambora, Jakarta Barat. Festival yang rencananya akan digelar tiap akhir pekan dari pukul 18.30-24.00 ini, selain menampilkan hiburan musik, juga memajang 150 stand kuliner dan souvenir khas Kota Tua.

"Kami ingin mengangkat potensi wisata di Kota Tua, dengan kegiatan ini diharapkan masyarakat lebih punya rasa memiliki dengan merawat Kota Tua," ungkap Rajudin, Ketua HPM Roamalaka, Jakarta Barat, Minggu (16/5) malam.

Rajudin menambahkan, kegiatan festival ini berangkat dari keinginan warga Roamalaka melestarikan budaya dan sejarah agar Kota Tua benar-benar menjadi destinisasi wisata di Jakarta. Terlebih, generasi muda sangat termotivasi dengan kekayaan potensi Kota Tua yang bila dimanfaatkan akan mendatangkan dampak ekonomi yang sangat besar.

"Ke depan kami akan meningkatkan brand image kegiatan dengan ciri khas Betawi, agar kegiatan ini bisa menjadi salah satu ikon Kota Tua," terangnya.

Wakil Walikota Jakarta Barat Sukarno yang membuka secara resmi Festival Passer Malam Wisata Kota Tua, menyambut baik peran serta masyarakat dalam mempromosikan Kota Tua. Kegiatan ini dinilai memberi dampak ganda, karena bisa menjadi sumber pendapatan warga sekaligus menjadi ajang hiburan. "Kami sangat mendukung, apalagi kegiatan ini murni dilaksanakan oleh warga," ungkapnya.

Namun begitu, Sukarno mengimbau agar pengunjung dan pedagang menjaga kebersihan dan merawat Kota Tua, serta berharap kegiatan yang akan dilaksanakan tiap akhir pekan berjalan tertib. "Tolong jangan membuang sampah ke kali, karena Kali Besar ini merupakan salah satu titik penilaian Adipura di Jakarta Barat," tandasnya.
 
sumber berita: beritajakarta

14 May 2010

Salam Hormat BEKSI

Salam Hormat kami untuk Pengunjung Blog ini

Bermula dari keinginan tulus beberapa anggota Perguruan Pencak Silat BEKSI untuk terus mengembangkan seni budaya dan kesenian ilmu beladiri BEKSI sebagai salah satu budaya dan kesenian yang merupakan asset yang paling berharga yang kita miliki dan kita cintai bersama.

berdasarkan itu semua, maka segala daya upaya kita terus laksanakan guna mencapai tujuan bersama demi kemajuan Perguruan Pencak Silat BEKSI, salah satunya adalah dengan membuat blog yang terkait dengan informasi Perguruan Pencak Silat BEKSI maupun berita-berita yang terkait dengan ilmu beladiri silat serta beberapa elemen lain dari unsur kesenian maupun budaya serta berita-berita dan informasi ringan yang tujuannya adalah membantu para pencari data maupun berita dalam mendapatkan informasi yang berguna sebagai masukan yang bermanfaat bagi mereka.

selanjutnya, dalam perjalannya...blog yang kami buat memang kami akui masih sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karenannya peran serta para sahabat Perguruan Pencak Silat BEKSI serta teman-teman pemerhati ilmu beladiri silat serta seluruh lapisan masyarakat dalam memberikan informasi kepada kami menjadi salah satu masukan bagi kami untuk memberikan informasi terbaik yang kami hadirkan dalam blog yang kami miliki.

selaras dengan itu pula...kami dari Perguruan Pencak Silat BEKSI memang dalam hal ini sedang giat dalam berbenah dan menata kembali beberapa elemen yang terkait dengan perguruan kami, sehingga masukan dan partisipasi para sahabat silat juga merupakan bagian dari kami untuk tetap exis dalam memberikan informasi-informasi yang berguna bagi para pembaca. sehingga kami sediakan di bagian sidebar blog kami berupa shout mix untuk para pengunjung untuk berkomentar dan memberikan masukan yang membangun guna memberikan arti lebih dalam upaya terus bersama-sama membangun dan melestarikan seni beladiri silat sebagai warisan dari kesenian dan kebudayaan bangsa ini.

adapun perguruan yang beraliran seni ilmu beladiri BEKSI inipun, hingga saat ini tersebar dan terbagi-bagi dalam kelompok perguruan silat dengan nama dan bentuk yang berbeda-beda. tapi satu hal yang ingin kami tekankan adalah "semangat kebersamaan" dalam upaya melestarikan seni bela diri BEKSI itu sendiri tanpa melihat siapa dan dari mana aliran BEKSI itu sendiri. karena bagi kami segala macam dan bentuk perbedaan adalah lumrah adanya, dan itu menjadi kian memperkaya khasanah ilmu beladiri BEKSI itu sendiri sebagai salah satu unsur dari kebudayan dan kesenian bangsa ini.

akhir kata, kami dari segenap pengurus Perguruan Pencak Silat BEKSI, yang dalam hal ini mengelola blog beksi ini, mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh lapisan pembaca dan pengunjung Blog ini yang tetap setia dan loyal dalam terus memperjuangkan kesenian dan budaya bangsa ini, agar menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri.
Wassalam
salam Hormat Perguruan!!!




11 May 2010

Nacita Mizwar gandrungi budaya Betawi

Anak kandung Deddy Mizwar terjun ke kesenian Betawi
 
Senandung Nacita Mizwar, adalah putri sulung aktor kawakan Deddy Mizwar yang pernah menang dalam Abang None Jakarta Selatan 2009.

Nacita, begitu ia disapa, tak ingin membuang kesempatan untuk ikut dalam pementasan sandiwara Betawi Abang None Jakarta, dengan tema 'DOEL: antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik' yang diproduseri artis cantik Maudy Koesnadi.

Nacita mengambil kontribusi sebagai salah satu pemeran utama bernama Usnul alias Usje, seorang gadis modern yang bersaing untuk merebut hati dan cinta si Doel, yang diperankan oleh Ade Firman Hakim.

"Ini pertama kalinya ikut pementasan teater untuk memberikan kontribusi sebagai salah satu Abang None, dan pada dasarnya aku senang nonton sandiwara.

Gadis yang mengaku mahir menari ini mengaku banyak berkonsultasi dengan sang ayah, Deddy Mizwar, yang dulu pernah menjadi pemain teater di tahun 70-an.

"Ayah pernah datang ke sini, agak malu juga sih dilihat ayah, dan dia agak ngetawain aku karena katanya, aku ikut-ikutan main teater juga," ujar Nacita di gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, 6 Mei 2010.

Nacita juga masih banyak menemui kesulitan ketika latihan dalam pementasan ini. Ia menyatakan, ini adalah hal yang wajar karena ia baru sekali berakting untuk pementasan teater, berbeda dengan ayahnya yang sudah 12 tahun menggeluti dunia seni teater.

"Kalau teater nggak bisa di-cut kayak sinetron dan biar ngejaga mood nggak ngedrop sama ngompakin tek-toknya biar bisa improve," kata Nacita.

Selain itu, dara cantik ini juga punya tujuan lain untuk menyebarluaskan kesadaran akan budaya pada masyarakat luas. "Otomatis sejak ikut Abang None aku punya kesadaran lebih tentang budaya, makanya aku mau berbagi dengan yang lain lewat pementasan ini," katanya.
 
sumber berita: vivanews

Menyusuri Jejak Shaolin

Jejak Shaolin di Kwitang
 
Menyusuri kawasan Kwitang akan selalu dikenalkan dengan sebuah Tugu Tani yang menjadi petunjuknya. Tapi, cerita Kwitang tidak hanya pada tugu setinggi kurang lebih sepuluh meter.

Kwitang menurut ceritanya juga terkenal dengan seorang jagoan Betawi. Jagoan Betawi asal Kwitang ini menambah legenda para pesohor silat lainnya seperti Si Pitung atau Jampang yang melegenda hingga ke seluruh pelosok Jakarta.

Namun epik bukan dari sejumlah nama itu saja. Tak banyak orang yang mengetahui ternyata Kampung Kwitang juga memiliki pesilat tangguh yang tak kalah hebatnya. Dia adalah Kwk Tang Kiam.

Kwik Tang Kiam adalah seorang pesilat asal negeri Tiongkok. Kehebatan pemuda ini dalam ilmu bela diri membawa pengaruh bagi warga di kampung Kwitang.

"Dia memang sangat tersohor di kampung ini. Bahkan kata kakek saya, orang Betawi jaman dulu menyebut daerah ini sebagai kampung si Kwik Tang dan akhirnya lama-lama tempat tersebut dinamai Kwitang," kata sesepuh Kwitang, Habib Abdul Rahman kepada VIVAnews, di kediamannya Jalan Kembang V No 50, Kwitang, Jakarta Pusat.

Kisah itu berawal pada abad 17 ketika seorang pengembara dari dataran Tiongkok, Kwik Tang Kiam menjejakkan kakinya di tanah Betawi. Konon, Kwik Tang Kiam telah mengembara ke hampir seluruh pelosok daerah Indonesia.

Di salah satu kampung di Betawi pengembara yang juga pedagang obat-obatan tersebut menetap. Selain piawai dalam meracik obat-obatan, ia juga ahli dalam berolah silat.
Di daerah tempat ia menetap, Kwik Tang Kiam menurunkan ilmu silatnya kepada orang-orang yang tinggal di sekitarnya.

"Banyak orang Betawi di sini yang jago silat, salah satunya Mat Zailani. Aliran silat di sini dikenal dengan sebuatan Si Ulung (perpaduan antara kekuatan fisik dan kebatinan)," ungkap pria 67 tahun itu.

Memang kehebatan ilmu silat Kwik Tang Kiam diakui masyarakat Betawi saat itu. Silat yang diajarkannya menggunakan jurus-jurus ampuh mirip aliran Shaolin yang memadukan unsur tenaga, kekuatan fisik dan kecepatan.

Hal ini sangat berbeda dengan aliran silat Betawi yang lebih menonjolkan ilmu kebatinan. Walau demikian Kwik Tang Kiam mengakui kehebatan ilmu kebatinan silat Betawi.

"Konon sejak itulah Kwik Tang Kiam menetap di kampung ini, dan para sesepuh di sini banyak yang mengatakan dia akhirnya memeluk agama Islam," paparnya.

Cerita lain Kwik Tang Kiam menyebutkan dia adalah seorang tuan tanah yang kaya. Hampir semua tanah yang terdapat di daerah tersebut adalah miliknya.

Saking luasnya tanah milik Kwik Tang kiam, orang Betawi menyebut kampungnye si Kwik Tang. Konon juga Kwik Tang memiliki seorang anak tunggal yang suka berjudi dan mabuk.

Setelah Kwik Tang Kiam meninggal dunia, anaknya yang suka berjudi dan mabuk Kwitang itu malah menjual semua tanah milik bapaknya kepada saudagar keturunan Arab.

Sejak itulah banyak keturunan Arab yang tinggal di Kampung Kwitang.

Selain silat, kampung Kwitang sejak tahun 1890 terkenal dengan sebuah perkumpulan majelis taklimnya. "Warga Betawi di Kwitang agama Islamnya cukup kuat, meskipun banyak warga Tionghoanya," ujarnya.

Lain dulu, lain sekarang. Kini kehebatan para pesilat di kampung Kwitang nyaris tak terdengar.

Bagi masyarakat Jakarta kampung Kwitang selalu identik dengan para penjual buku-buku baru dan bekas, meskipun Pemerintah Provinsi DKI sudah merelokasi para pedagang buku di Kwitang ke Pasar Proyek Senen.

"Ya inilah wajah Kwitang saat ini, tapi jangan lupa anak-anak Kwitang masih jago kalau soal silat. Ente jual, ane beli," selorohnya.
 
sumber berita: vivanews

Batu akik khas Betawi

Batu Wulung, Batu Akik Khas Betawi

Batu alam atau yang lebih dikenal dengan sebutan batu akik, merupakan salah satu potensi alam yang dimiliki nusantara ini. Tidak jarang, pemberian nama batu akik diambil dari nama daerah di mana batu tersebut berasal. Lantas bagaimanakah dengan Jakarta? Apakah Jakarta yang notabene ibu kota negara juga memiliki batu akik asli?

Ya, seperti halnya daerah lain, Jakarta juga memiliki sebuah batu akik yang keberadaannya telah ada sejak ratusan tahun lalu dan menjadi ciri khas batu akik asal tanah Betawi. Batu akik tersebut dikenal dengan sebutan batu wulung. Konon, menurut legendanya, batu yang pertama kali ditemukan di daerah aliran Kali Cibeet, Bekasi, ini ditenggarai juga memiliki kekuatan ghaib yang dapat berfungsi sebagai pelindung diri atau memiliki khasiat kekebalan tubuh.

Silat Seliwa

Silat Seliwa Jurus Tujuh dari Bambularangan
 
Bagi masyarakat Betawi belajar silat adalah kewajiban kedua setelah belajar mengaji yang harus dipelajari sejak masa kanak-kanak. Tak heran, ilmu silat pun berkembang di tanah Betawi dengan beragam jenisnya, mulai dari Silat Cingkrik, Silat Beksi hingga Silat Seliwa dari Bambularangan, Kalideres, Jakarta Barat. Namun, tak banyak yang tahu jika Silat Seliwa dipopulerkan oleh almarhum Haji Sama’ bin Saleh.

Konon kabarnya, Haji Sama bin Saleh ini juga keturunan langsung dari pendiri kampung Bambularangan. Beliau mewarisi aliran silat ini dari gurunya Ki Muhatim yang berasal dari kampung Gondrong, Tangerang. Tidak hanya itu, orangtua Haji Sama` adalah orang terpandang yang juga jago pukul (ahli silat) pada zamannya.

Semasa Ki Saleh masih hidup, Haji Sama` yang saat itu masih remaja bisa melakukan dan mendapatkan apa saja yang dia inginkan, tentunya karena orang sungkan terhadap kebesaran nama bapaknya. “Telunjuk gua laku, apa nyang gue pengenin gua tinggal nunjuk," ujar Haji Sama` seperti diceritakan Adam Moeslih salah satu keturunan yang masih kerabat dekat Haji Sama` kepada beritajakarta.com di pelataran halaman kantor Walikota Jakarta Barat, Selasa (11/5).

Petaka datang ketika sang ayah yang dibanggakannya meninggal dunia. Haji Sama` merasa orang sudah tidak lagi “memandang” dia. Karena peristiwa itu, Haji Sama` mulai sadar jika dia ingin disegani orang, maka dia juga harus sehebat ayahnya. Maka dengan membayar dua pikul dongkrak gabah cere dan gabah ketan sebagai jaminan, dia mengajukan diri berguru kepada Ki Muhatim, guru Silat Betawi Jurus Tujuh. Belajar pukul dilakukan di pelataran rumah Haji Jibi, sebuah rumah kebaya berundak dua yang menghadap utara, di halamannya tumbuh sebatang pohon Maja. Haji Sama` bin Saleh adalah murid yang cekatan dan berani, sehingga dengan mudah ia menyerap jurus-jurus yang diajarkan sang guru.

Di samping belajar pukul, Haji Sama` juga belajar “elmu”. Di antaranya adalah Elmu Pelamuran, konon ilmu dalem ini dimiliki juga oleh Mat Item, raja garong dari Srengseng yang tewas ditembak pasukan dari Batalion Kala Hitam atas petunjuk Ki Medo tokoh masyarakat setempat di anak kali Mookervart, Kampung Duri, setelah diburu selama tiga bulan. Satu lagi ilmu yang dikuasai Haji Sama` bin Saleh adalah Elmu Kebal Aer Keras.

Kehebatan pukul Silat Seliwa jurus tujuh pernah digunakan Haji Sama` ketika dia menerima tantangan Lurah Kosambi untuk bejaban (adu tanding). “Kepelannya segede gayung, kalo kita ampe kepukul, kita bisa kaga kena nasi tiga ari," begitu Adam menuturkan kisah Haji Sama` dengan logat Betawinya yang kental.

Jurus Seliwa peninggalan Haji Sama` di antaranya, Jurus Nampan Duit, Jurus Sosot, Jurus Ketok, Jurus Gecek, Jurus Berarak Miring, Jurus Berarak Rendah, dan Jurus Sambat.

Kini, Haji Sama` telah meninggal dunia, dan tidak semua keahlian pukul Betawi serta yang dikuasainya sempat diwariskan kepada kerabatnya. Karena sampai wafat 2 Januari 2006 silam di usia menjelang 70 tahun, Haji Sama` tidak memiliki keturunan. "Kini Silat Seliwa Jurus Tujuh sudah sedikit sekali yang masih menghapalnya, mungkin begitulah akhir dari perguruan silat yang ditinggal mati guru besarnya, lama-lama meredup dan dilupakan orang," ungkap Adam.
 
sumber berita: beritaJakarta

Nama-nama Pasar

Asal Mula Nama-Nama Pasar di Jakarta

Jakarta sebagai kota metropolitan, ternyata memiliki nama-nama pasar sesuai dengan nama hari dalam sepekan. Namun dari nama-nama hari itu, yang masih terdengar sampai saat ini adalah Pasar Minggu, Pasar Senen, Pasar Rebo, dan Pasar Jumat. Seluruhnya masih melekat karena kini menjadi nama sebuah daerah. Sedangkan Pasar Selasa, Pasar Kamis, dan Pasar Sabtu, nyaris tak terdengar lagi, konon karena terkalahkan oleh nama daerah. Nama pasar dikaitkan dengan nama hari karena dalam riwayatnya, aktivitas di pasar itu dilakukan pada hari tertentu.

Misalnya, disebut Pasar Senen karena aktivitas di pasar tersebut dulunya selalu dilakukan setiap hari Senen. Kini nama tersebut menjadi sebuah kecamatan di wilayah Jakarta Pusat. Demikian halnya nama-nama pasar lainnya.

Pengamat Kebudayaan Betawi yang juga Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Yahya Andi Saputra, mengatakan, dalam arsip Kolonial, pasar pertama kali didirikan oleh seorang tuan tanah berdarah Belanda bernama Justinus Vinck di bagian selatan Castle Batavia pada tahun 1730-an. Pasar itu bernama Vincke Passer yang saat ini dikenal dengan nama Pasar Senen. Vincke Passer lah yang pertama kali menerapkan sistem jual beli dengan menggunakan uang sebagai alat jual beli yang sah.

Kemudian masuk pada abad ke-19 atau di tahun 1801 pemerintah VOC memberikan kebijakan dalam perizinan membangun pasar kepada tuan tanah. Namun dengan peraturan pasar yang didirikan dibedakan menurut harinya. Vincke Passer buka setiap hari Senin, sehingga orang pribumi sering menyebut Vincke Passer sebagai Pasar Senen dan hingga saat ini nama tersebut masih melekat hingga diabadikan menjadi sebuah nama daerah.

Selain Vincke Passer yang buka hari Senin, ada juga pasar yang buka hari Selasa yakni Pasar Koja, pasar yang buka setiap hari Rabu adalah Pasar Rebo yang kini menjadi Pasar Induk Kramatjati. Kemudian pasar yang buka setiap hari Kamis adalah Mester Passer yang kini disebut Pasar Jatinegara. Selanjutnya ada beberapa pasar yang buka di hari Jumat, sebut saja pasar Lebakbulus, Pasar Kelender dan Pasar Cimanggis.

“Untuk Pasar Sabtu, atau pasar yang bukanya setiap hari Sabtu adalah Pasar Tanah Abang. Sedangkan Pasar Minggu atau yang dulu dikenal dengan sebutan Tanjung Oost Passer buka pada hari Minggu. Perbedaan pengoperasian pasar ini dilakukan VOC dengan alasan keamanan serta faktor untuk mempermudah orang dalam berkunjung dan lebih mengenal suatu pasar,” ujar Yahya, Rabu (5/5).

Sayangnya, kebijakan berlakunya hari kerja pasar tak berlangsung lama. Sebab sejak VOC bangkrut akibat banyak pejabat yang korupsi, pemerintahan Belanda di Batavia diambil alih oleh Kerajaan Hindia-Belanda. Nah sejak zaman Hindia-Belanda, peraturan hari kerja pasar tak berlaku, hingga sebagian besar pasar buka setiap hari, meski terlanjur menyandang nama hari sebagai nama pasar.

Di zaman Hindia-Belanda pada akhir abad ke-19 inilah, menurut Yahya yang sehari-hari bekerja sebagai staf pengajar di Universitas Indonesia (UI), banyak bermunculan pasar-pasar baru yang lebih modern, seperti Passer Baroe, Passer Glodok, Toko Merah. Pasar-pasar yang muncul di era abad ke-19 akhir hingga awal abad ke-20 menjadi inspirasi lahirnya supermarket dan juga mal.

sumber berita: berita Jakarta

Alat Musik Cina

Alat Musik TehYan pengiring Ondel-ondel

Tak banyak orang yang mengenal alat musik Tehyan. Keberadaan alat musik yang berasal dari negeri Cina ini mulai langka. Cara bermainnya yang cukup sulit pun menyebabkan alat musik Tehyan saat ini mulai ditinggalkan. Meski begitu, mungkin sebagian orang masih dapat menemukan Tehyan yang digunakan saat pertunjukan kesenian ondel-ondel walau hanya sebagai pengisi suara saja.

Tehyan merupakan alat musik gesek berbentuk panjang dengan bagian bawah yang agak melebar. Jika diamati, alat musik ini mirip rangka manusia mulai bagian badan hingga bokong. Tangga nada dalam alat musik Tehyan yang diatonis, dalam permainannya lebih mengandalkan feeling atau perasaan. Itulah yang membuat alat musik ini berbeda dengan alat musik lainnya.

Pengamat sejarah yang juga pemerhati budaya Betawi dari Lembaga Kesenian Betawi (LKB), Yahya Andi Saputra, mengungkapkan, Tehyan adalah salah satu alat musik Betawi hasil perpaduan kebudayaan Tionghoa yang masih tersisa. Menurutnya, saat ini Tehyan mulai jarang dijumpai karena langkanya alat musik Tehyan digunakan oleh masyarakat.

Yahya menuturkan, Tehyan mulai dikenal di masyarakat pribumi sejak bangsa Tionghoa datang ke Batavia pada abad ke-17. Saat itu, alat musik Tehyan menjadi salah satu alat kesenian Tionghoa yang dibawa ke Batavia. Dulunya alat musik Tehyan dimainkan dalam orkes Yan Kin dimana pemainnya merupakan warga keturunan Tionghoa.

Yahya mengungkapkan, ada beberapa daerah, dimana permainan alat musik ini tumbuh dengan subur. Orkes Yan Kin dimainkan sebagai penyambut tamu pada acara tuan tanah, seperti di Jatinegara ataupun Rorotan. Di sinilah alat musik Tehyan mulai dikenal dan akhirnya sering digunakan sebagai pengiring musik gambang kromong,” kata Yahya.

Pada dasarnya, tambah Yahya, dalam orkes Yan Kin terdapat dua alat musik sejenis yang dimainkan dengan cara digesek selain Tehyan, yakni alat musik Sukong dan Kongahyan. Ketiga alat musik ini merupakan alat musik sejenis, hanya saja ukurannya yang berbeda. Ketiganya merupakan alat musik yang berasal dari Cina.

Dari perpaduan dua kebudayaan inilah beberapa alat musik dalam orkes Yan Kin berbaur dengan alat musik pribumi. Lagu-lagu atau musik hasil perpaduan dua alat musik dari kebudayaan berbeda inilah menghasilkan alunan pada gamelan ajeng atau gambang kromong. Seiring berjalannya waktu, tak jarang Tehyan menjadi alat musik pengiring pada kesenian Ondel-ondel.

Seperti yang dilakukan Ahmad Jadi (42) pemilik kesenian Ondel-ondel keliling yang berada di Cempakaputih, Jakarta Pusat. Jadi, demikian bapak tiga orang anak ini dipanggil mengaku, Tehyan menjadi bagian penting alat musik pengiring Ondel-ondel. Suara yang dihasilkan dari alat musik Tehyan menuntun Ondel-ondel ketika menari.

Ahmad sendiri mengaku, Tehyan miliknya didapat dari orangtuanya yang dulu merupakan seniman Lenong Betawi. Saat ini Tehyan warisan sang ayah itu masih disimpan dan dipertahankan sebagai alat musik utama untuk mengiringi kesenian Ondel-ondel miliknya. “Cuma ini, makanya saya rawat baik-baik,” kata Ahmad.

Dalam kesenian Ondel-ondel, menurut Ahmad, selain alat musik Tehyan, unsur alat musik yang digunakan adalah Gendang Pencak, Rabana, Bende atau Kemes, Ningnong, serta Rebana Ketipring. “Alat musik Tehyan dimainkan untuk mengeluarkan unsur melodi dalam lagu Ondel-ondel,” tandas Ahmad Jadi kepada beritajakarta.com,
 
sumber berita: beritaJakarta

Identitas Betawi

 Gelang Akar Bahar Identitas Betawi

Jawara Betawi tak hanya identik dengan kumis tebal yang melintang dan pakaian serba hitam lengkap dengan ikat kepala hitam. Jawara Betawi biasanya juga mengenakan gelang akar bahar sebagai aksesoris. Gelang akar bahar tak hanya sebagai pemanis lengan yang memakainya. Bahkan dulu, gelang akar bahar ternyata memiliki makna dan dapat memberikan tanda pada siapa yang memakainya.

Akar bahar atau biasa disebut black coral berasal dari tanaman laut yang merambat dan tumbuh di atas kerang. Bentuk akar bahar memanjang, dan akan menjadi kaku jika dikeringkan. Biasanya pada akar bahar yang bagus terdapat bagian keras layaknya seperti batu. Bagian yang keras ini adalah asli bawaan tumbuhan itu yang telah menjadi fosil dan mengeras.

Tumbuhan laut akar bahar ternyata bukan tumbuhan biasa, karena memiliki kegunaan dan fungsi bagi yang memakainya. Konon tumbuhan akar bahar ini mampu menjaga kesehatan dan menimbulkan kekuatan tubuh bagi pemakainya. Tak hanya itu, secara fisik gelang akar bahar dapat menambah kharisma yang sangat luar biasa bagi jawara yang memakainya.

Untuk mendapatkan akar bakar bahar bukanlah hal yang mudah. Karena itu, siapa yang memiliki gelang ini dianggap jagoan karena usahanya memiliki akar bahar. Akar bahar biasanya didapat dari dasar laut dengan kedalaman 600 meter. Sebelum digunakan, biasanya tumbuhan akar bahar dipanaskan hingga kaku dan dibentuk menjadi sebuah gelang. Selain gelang, akar bahar juga dapat dijadikan cincin ataupun pipa untuk merokok (cangklong).

Kolektor benda-benda antik dan benda bersejarah, H Azis Munandar, mengatakan, gelang akar bahar memiliki khasiat bagi siapa saja yang memakainya. Tak hanya itu, di kalangan masyarakat Betawi gelang akar bahar juga digunakan sebagai simbol. “Nggak cuma dipakai sebagai penghias lengan saja, lebih dari itu gelang akar bahar juga memiliki simbol,” kata Azis kepada beritajakarta.com, Selasa (4/5).

Bagi para centeng atau jagoan Betawi yang mengabdi pada kompeni Belanda atau kerajaan-kerajaan, lanjut Azis, gelang akar bahar dipakai pada lengan yang berbeda agar simbol dan makna gelang akar bahar dapat dipahami. “Jika gelang akar bahar digunakan di lengan kanan merupakan abdi dalem. Sedangkan di lengan sebelah kiri merupakan penjaga di luar,” terang Azis.

Azis mengaku gelang akar bahar digunakan jawara Betawi saat zaman penjajahan Belanda. Kalangan masyarakat Betawi yang menggunakan aksesoris adalah centeng, para jawara atau jagoan Betawi. Saat ini gelang akar bahar yang menjadi aksesoris peninggalan sejarah Betawi ini mulai langka, bahkan kerena kelangkaannya gelang ini banyak diburu para kolektor.

Azis yang mengaku masih menyimpan beberapa jenis gelang akar bahar ini mengatakan harga gelang akar bahar yang asli dan berusia tua bisa mencapai jutaan rupiah. Karena selain sebagai hiasan, gelang akar bahar juga dinilai sebagai benda bersejarah peninggalan budaya Betawi.

sumber berita: BeritaJakarta

10 May 2010

Antusias Warga Jakarta terhadap Kesenian

Warga Jakarta Antusias Nikmati Pagelaran 
Budaya Betawi
 
Untuk melestarikan budaya Betawi sebagai entitas budaya asli masyarakat Jakarta, Pemprov DKI bersama Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) menggelar kegiatan pagelaran budaya Betawi di lapangan Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat. Acara yang diisi dengan berbagai kesenian dan budaya khas Betawi ini mendapat sambutan antusias dari masyarakat Jakarta. Bahkan, tak kurang sekitar puluhan ribu orang telah memadati lokasi acara itu sejak acara baru digelar.

Acara bertema "Kibar Budaya untuk Negeri, Cinte Betawi" itu sendiri diisi oleh empat ribu orang partisipan yang mempertunjukkan seni budaya Betawi, mulai dari tari-tarian, musik tradisional, dan pencak silat Betawi. Selain itu, acara juga semakin meriah dengan diadakannya jalan sehat yang diikuti sepuluh ribu peserta dari lima wilayah DKI Jakarta dan Kepulauan Seribu.

Sekda DKI Jakarta Muhayat menyambut positif dengan kegiatan tersebut. Menurutnya, dengan kegiatan yang mengusung tema cinta budaya Betawi menujukkan adanya perhatian terhadap kebudayaan Betawi. "Acara kali ini menujukkan adanya kepedulian terhadap budaya Betawi dan pelestariannya", ungkap Muhayat, Minggu (21/2).

Dikatakannya, acara yang memadukan unsur kesenian dan olahraga, di mana salah satu kegiatan yang dilakukan berupa jalan sehat dan diikuti oleh sepuluh ribu peserta, juga menunjukkan kepedulian warga Jakarta dalam menjaga kesehatan diri.

"Adanya jalan sehat yang melibatkan ribuan peserta menunjukkan kepedulian warga dalam menjaga kebugaran dan kesehatan. Acara ini dapat menjalin kebersamaan antara warga yang satu dengan yang lain," terangnya.

Arie Budhiman Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta menilai, pertunjukkan pagelaran budaya Betawi yang digelar di Monas sangat bagus sebagai ajang promosi budaya. Namun menurutnya, harus lebih dipromosikan lagi dengan mengaktifkan lagi balai-balai budaya Betawi.

"Dengan mengaktifkan balai-balai budaya Betawi, kesenian seperti ini akan lebih sering mendapatkan kesempatan untuk tampil," tandasnya.

Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Tatang Hidayat mengatakan, apresiasi masyarakat dalam mendukung kesuksesan pagelaran budaya Betawi sangat dibutuhkan dan diharap ke depan masyarakat lebih mencintai budaya Betawi tersebut.

"Masyarakat harus tahu, kalau budaya Betawi sangat beragam. Karena itu, sebagai generasi muda kita harus mencintai kebudayaan ini agar tetap lestari," katanya.

Ketua Panitia Penyelangara Firmansyah mengungkapkan, dengan terselengaranya acara ini diharapkan menjadi program lanjutan, demi memperkenalkan lagi budaya Betawi kepada masyarakat sehingga keberadaannya tidak terlupakan. Sebab, selama ini banyak budaya Betawi yang tidak semuanya diketahui oleh masyarakat Betawi sendiri.

"Acara ini diharap menjadi sebuah program lanjutan untuk warga Jakarta," harapnya.
 
sumber berita: Berita Jakarta

Silat Ji'i dari Betawi


 Silat Ji'i dari Jakarta Utara
Sebagai warga asli Jakarta, masyarakat Betawi menyimpan segudang tradisi dan kesenian yang memakau. Seni beladiri misalnya. Dari sederet seni beladiri yang dikenal, seperti Beksi dan Cingkrik, ternyata masih terdapat satu seni beladiri yang tak kalah dahsyatnya, yakni silat Ji`it. Konon, seni beladiri diri ini telah berkembang ratusan tahun di Cakung, Jakarta Timur.

Meski tidak diketahui secara gamblang siapa penciptanya, namun seni beladiri ini menjadi keterampilan beladiri andalan para jawara Cakung. Untuk bisa mempelajari seni beladiri ini, setiap calon pesilat wajib melakukan sedekah atau sejenis selamatan sederhana. Uniknya, jamuan selamatan harus memuat tiga macam hidangan, termasuk yang harus dimakan calon pesilat, yakni nasi ketan, ikan capung, dan telor.

Tiga makanan ini mengandung unsur magis saat pesilat mencapai tataran/tingkatan tertinggi. Nasi ketan diyakini mampu menyedot gerakan lawan, ikan capung membantu kelincahan gerak, dan telor untuk memurnikan hati agar energi tubuh/tenaga dalam tergali dengan baik. Jika rangkaian jurus dan tenaga dalam sudah dikuasai, maka ilmu beladiri pesilat akan disempurnakan dengan tenik memainkan golok khas Cakung.

"Kalau belum menguasai seluruh jurus Ji`it, pesilat belum boleh menggunakan golok Cakung. Jadi kalau ada yang sudah bisa memainkan golok Cakung berarti sudah menguasai silat Ji`it," ungkap KH Lutfi Hakim el-Muhir, Tokoh Masyarakat Cakung, yang juga Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR).

Dia mengungkapkan, setidaknya ada 13 jurus dasar dalam silat Ji`it, mulai dari pukulan, tendangan hingga melumpuhkan lawan. Silat ini juga tergolong agak sulit dipelajari. Sebab, setiap teknik pukulan maupun tendangan bersifat pendek dan cepat. Bahkan, seluruh gerakan tidak ada gerakan mundur. "Seluruhnya maju. Pukulan-pukulan juga harus `lengket` (pendek dan cepat). Belum lagi, kalau sudah pake golok harus benar-benar pas," ujar KH Lutfi Hakim el-Muhir kepada beritajakarta.com, Kamis (15/10).

Golok Cakung merupakan senjata pamungkas dalam seni beladiri ini. Sebab, teknik menggunakan golok Cakung memerlukan ketekunan dan keikhlasan. Mengingat golok Cakung punya makna dan nilai sejarah tersendiri. Konon, golok Cakung diciptakan pertama kali oleh seorang empu. Sang empu tersebut hanya mengapit besi diketiak dan jadilah golok. Sehingga, golok Cakung memiliki ciri khas sedikit bengkok/tidak lurus. Sedangkan ciri lainnya, ujungnya meruncing ke arah bawah, tidak ke atas laiknya golok pada umumnya. Sedangkan panjangnya sekitar 30-35 sentimeter.

KH Lufti mengungkapkan, saat ini tidak banyak warga Betawi Cakung yang mengusai silat tersebut. Sebab, untuk sampai tingkat tertingi cukup sulit. "Jadi kalau ada orang yang sudah menyimpang secara khusus golok Cakung pasti dia sudah menguasai Silat Ji`it. Saat ini paling 50 orang yang menguasai secara sempurna," kata Ketum FBR itu.

Karenanya, melalui FBR, KH Lutfi Hakim el-Muhir bertekad akan melestarikan silat warisan nenek-moyang ini. Apalagi, menurut cerita warga setempat, silat Ji`it pernah dipakai warga Cakung melawan agresi militer Belanda saat terjadi perang di Karawang hingga Bekasi, dan perlawanan itu berhasil. "Silat ini umurnya sudah ratusan tahun. Saat perang kemerdekaan juga dipakai warga untuk melawan penjajah. Karena itu, melalui anggota kita terus sosialisasikan dan mencari penerus-penerus silat ini agar tidak punah," tukasnya.
Sumber Berita: Berita Jakarta

Pemprov DKI Diminta Lestarikan Silat Betawi

Mari Lestarikan Silat Betawi
 
Sebagaimana etnis-etnis lainnya yang senantiasa menjunjung tinggi adat setempat, warga Betawi juga bertekad akan terus melestarikan budayanya. Adanya berbagai aliran/pakem perguruan silat di tanah Betawi bukanlah sebuah pengkotak-kotakan bagi warga Betawi, melainkan sebuah khazanah kekayaan kebudayaan Betawi. Demikian ditegaskan Ketua Umum Beksi Jakarta, Ahmad Yani, pada acara khaul tiga sesepuh Beksi Kong Simin, Kong Nur, dan Kong Haji Hasbullah di RT 10/01 Kelurahan Petukanganselatan, Jakarta Selatan, Minggu (2/8).

Persatuan antara sesama pendekar Betawi atau lebih tepatnya para penerus bela diri asli Betawi harus terus dipupuk. Sehingga, sebagai warga asli Jakarta, para pendekar Betawi bisa turut menjaga keamanan dan kenyamanan ibu kota. "Sebagai tuan rumah, sudah sepatutnya warga Betawi memberikan rasa aman bagi warga Jakarta lainnya," kata pria yang akrab disapa Haji Ahmad itu.

Menurutnya, sejumlah aliran perguruan silat asli Betawi harus saling bahu-membahu untuk menciptakan keharmonisan antar sesama warga Betawi. Sehingga, khazanah budaya Betawi dapat terus dilestarikan dengan baik. Karenanya, setiap perguruan silat Betawi harus mampu menarik generasi penerus agar tetap berjaya. "Tidak hanya dari Beksi, perkumpulan silat Cingkrik juga ikut hadir pada acara ini. Ini bukti bahwa seluruh perkumpulan Silat Betawi bersatu. Dan kami akan terus melestarikan budaya Betawi," ujar Haji Ahmad.

Dalam tausiyahnya, KH Muhammad Lutfi Zawawi mengatakan, silat Beksi bisa diibaratkan sebilah golok tanpa sarung. Dimana jika tidak dikendallikan maka si pemiliknya bisa saja menggunakan untuk hal-hal negatif. Karena itu, silat Beksi sebaiknya juga diimbangi dengan pengetahuan dan kecakapan agama yang baik. "Kesehatan itu harus seimbang, yakni sehat jasmani dan rohani. Jika tak berimbang maka hal itu akan berbahaya," ungkapnya.

Dan hal ini tentu juga berlaku bagi semua perguruan silat Betawi. Untuk itu, pertemuan seperti ini harus digalakkan untuk menjalin silaturahmi antar pendekar Beksi dan perkumpulan silat lainnya. "Mudah-mudahan acara ini menjadi titik tolak untuk kebangkitan budaya Betawi khususnya silat-silat asli Betawi," tandas Kyai yang juga salah seorang guru besar Beksi ini.

Dalam kesempatan tersebut, Haji Zamawi juga berharap kepada Pemprov DKI Jakarta agar mau turut andil untuk memfasilitasi pertemuan-pertemuan semacam ini. Sehingga, tali persaudaraan antara sesama pendekar Betawi dalam terjalin dengan baik. "Hendaknya budaya semacam ini mendapat perhatian yang lebih dari Pemerintah DKI Jakarta, karena silat Beksi merupakan salah satu aset penting kota Jakarta," ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Bahtiar, pengurus Sanggar si Pitung yang membawahi organisasi Silat Jingkrik, Rawabelong. Menurutnya, apresiasi yang diberikan Pemprov DKI Jakarta saat ini masih dirasakan kurang optimal, khususnya terhadap kelestarian silat Betawi. "Pemda seharusnya punya perhatian yang lebih terhadap pembinaannya. Untuk itu, kalau bisa silat Betawi dijadikan ekstrakurikuler wajib bagi sekolah-sekolah di Jakarta," tandasnya.

Selama ini, dirinya beserta rekan-rekan dari organisasi silat Betawi terus berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan silat Betawi agar tetap berjaya dan dikenal baik tingkat nasional maupun internasional. "Kalau bukan kita-kita, siapa lagi yang mau berjuang memajukan budaya Betawi,” tutur Bahtiar.

Acara khaul ini juga dimeriahkan dengan aksi-aksi pesilat-pesilat cilik memamerkan kebolehannya hingga membuat para undangan dan masyarakat terpukau. Gerakan mereka cukup lincah dan sangat mahir memainkan sebilah golok.
 
sumber berita: BeritaJakarta

Lestarikan Pencak Silat Betawi

Pencak Silat Betawi Harus Dilestarikan

Produk kesenian dan kebudayaan etnis Betawi saat ini mulai terpinggirkan. Perubahan zaman yang sudah mengglobal mengakibatkan warga Jakarta khususnya Betawi mulai melupakan kebudayaan tradisional yang sudah mengakar sejak lama.

Karena itu, perlu upaya yang komprehensif agar kebudayaan Betawi dapat dihidupkan kembali. Salah satunya perguruan silat Betawi.

Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan perguruan silat Betawi merupakan salah satu kebudayaan Betawi yang harus dilestarikan dan meneruskannya ke generasi muda.

"Kebudayaan Betawi harus kita lestarikan dan terus dikembangkan. Kita tentu tidak ingin pencak silat Betawi dilupakan orang," ujar Fauzi Bowo, di sela-sela acara pelantikan Perguruan Silat Pusaka Betawi di Lapangan SDN 01 Petukangan Selatan, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Minggu (25/2). Acara tersebut dihadiri sekitar 5.000 anggota persatuan silat Beksi, Kotek, Kronce Indonesia dan anggota IPSI serta Forum Komunikasi Betawi (Forkabi) DKI Jakarta.

Pencak silat tradisional ini, kata dia, bukan hanya ada di Jakarta, tapi juga sudah ada di beberapa negara seperti Eropa, Jepang, Rusia, dan bahkan sampai ke Amerika. "Yang mengembangkan semua itu adalah warga Betawi," kata Fauzi Bowo yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Pencak silat tradisional betawi ini sudah ada sejak dahulu, di mana para orangtua selain mengajar anaknya mengaji, juga mengajarkan bermain pukulan. "Pencak silat betawi ini, yang bermain hanya tangan. Makanya, dulu disebut bermain pukul," tuturnya.


Dalam kesempatan tersebut dia mengajak kepada masyarakat khususnya warga Betawi untuk terus berusaha mengembangkan budaya Betawi termasuk pencak silat. "Mudah-mudahan pencak silat Betawi ini bukan hanya ada di Indonesia, tapi juga berada di dunia internasional," harapnya.

Di tempat yang sama, Ketua DPC Forkabi Kecamatan Pesanggrahan Mulyadi mengatakan, Perguruan Silat Pusaka Betawi ini selain merupakan cikal-bakal pengurus IPSI juga merupakan salah satu kebudayaan Betawi yang harus dilestarikan. "Kita mempunyai kewajiban untuk melestarikan budaya itu," katanya.

Pihaknya, kata Mulyadi, juga sangat mendukung pencalonan Fauzi Bowo sebagai gubernur DKI Jakarta mendatang. Dia beralasan, selain Bnag Fauzi putra Betawi asli, dia juga sebagai putra terbaik dilihat dari pengalaman yang dimilikinya.

"Kami keluarga besar Forkabi Jakarta mendukung sepenuhnya Bang Fauzi menjadi gubernur DKI Jakarta mendatang," kata Jaani Tabah, Ketua Ranting Forkabi Kelurahan Ulujami.
 
sumber berita: BeritaJakarta

05 May 2010

Monas Icon Jakarta

Monas sebagai icon Ibukota Jakarta
 
Monas atau Monumen Nasional merupakan icon kota Jakarta. Terletak di pusat kota Jakarta, menjadi tempat wisata dan pusat pendidikan yang menarik bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Monas didirikan pada tahun 1959 dan diresmikan dua tahun kemudian pada tahun 1961. Monas selalu ramai dikunjungi wisatawan untuk melihat keindahan kota Jakarta dari puncak Monas, menambah wawasan sejarah Indonesia di ruang diorama ataupun menikmati segarnya hutan kota seluas kira-kira 80 hektar di tengah kota Jakarta.

Setiap hari libur, Monas selalu dikunjungi banyak wisatawan. Di sini Anda bisa menikmati banyak jenis wisata dan bahan pendidikan. Anda bisa menaiki monumen yang menjulang tinggi hingga ke puncak Monas. Anda juga dapat berolahraga bersama teman dan keluarga. Anda juga bisa menikmati taman yang indah dengan berbagai pepohonan yang rimbun dan asri. Atau Anda bisa menikmati hiburan air mancur yang menarik.
 
Sejarah Monas

Monas mulai dibangun pada bulan Agustus 1959. Keseluruhan bangunan Monas dirancang oleh para arsitek Indonesia yaitu Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir. Rooseno. Pada tanggal 17 Agustus 1961, Monas diresmikan oleh Presiden Soekarno. Dan mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 12 Juli 1975.

Sedangkan wilayah taman hutan kota di sekitar Monas dahulu dikenal dengan nama Lapangan Gambir. Kemudian sempat berubah nama beberapa kali menjadi Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas dan kemudian menjadi Taman Monas.


Ukuran dan Isi Monas

Monas dibangun setinggi 132 meter dan berbentuk lingga yoni. Seluruh bangunan ini dilapisi oleh marmer.


  • Lidah Api : Di bagian puncak terdapat cawan yang di atasnya terdapat lidah api dari perunggu yang tingginya 17 meter dan diameter 6 meter dengan berat 14,5 ton. Lidah api ini dilapisi emas seberat 45 kg. Lidah api Monas terdiri atas 77 bagian yang disatukan.
  • Pelataran Puncak : Pelataran puncak luasnya 11x11 m. Untuk mencapai pelataran puncak, pengunjung bisa menggunakan lift dengan lama perjalanan sekitar 3 menit. Di sekeliling lift terdapat tangga darurat. Dari pelataran puncak Monas, pengunjung bisa melihat gedung-gedung pencakar langit di kota Jakarta. Bahkan jika udara cerah, pengunjung dapat melihat Gunung Salak di Jawa Barat maupun Laut Jawa dengan Kepulauan Seribu.
  • Pelataran Bawah : Pelataran bawah luasnya 45x45 m. Tinggi dari dasar Monas ke pelataran bawah yaitu 17 meter. Di bagian ini pengunjung dapat melihat Taman Monas yang merupakan hutan kota yang indah.

  • Museum Sejarah Perjuangan Nasional : Di bagian bawah Monas terdapat sebuah ruangan yang luas yaitu Museum Nasional. Tingginya yaitu 8 meter. Museum ini menampilkan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Luas dari museum ini adalah 80x80 m. Pada keempat sisi museum terdapat 12 diorama (jendela peragaan) yang menampilkan sejarah Indonesia dari jaman kerajaan-kerajaan nenek moyang Bangsa Indonesia hingga G30S PKI.
Selain itu direncanakan untuk ditampilkan bendera pusaka dan naskah proklamasi yang asli di dalam bangunan Monas. Di sini juga ditampilkan rencana pembangunan kota Jakarta.


Taman Monas

Di taman ini Anda dapat bermain bersama kawanan rusa yang sengaja didatangkan dari Istana Bogor untuk meramaikan taman ini. Selain itu Anda juga dapat berolahraga di taman ini bersama teman maupun keluarga.

Taman Monas juga dilengkapi dengan kolam air mancur menari. Pertunjukan air mancur menari ini sangat menarik untuk ditonton pada malam hari. Air mancur akan bergerak dengan liukan yang indah sesuai alunan lagu yang dimainkan. Selain itu ada juga pertunjukkan laser berwarna-warni pada air mancur ini.

Bagi Anda yang ingin menjaga kesehatan, selain berolahraga di Taman Monas, Anda pun dapat melakukan pijat refleksi secara gratis. Di taman ini disediakan batu-batuan yang cukup tajam untuk Anda pijak sambil dipijat refleksi. Di taman ini juga disediakan beberapa lapangan futsal dan basket yang bisa digunakan siapapun.

Jika Anda lelah berjalan kaki di taman seluas 80 hektar ini, Anda dapat menggunakan kereta wisata. Taman ini bebas dikunjungi siapa saja dan terbuka secara gratis untuk umum.
Wisata Monas

Untuk mengunjungi Monas, ada banyak jenis transportasi yang dapat Anda gunakan. Jika Anda pengguna kereta api, Anda dapat menggunakan KRL Jabodetabek jenis express yang berhenti di Stasiun Gambir. Anda pun dapat menggunakan fasilitas transportasi Bus Trans Jakarta. Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, tersedia lapangan parkir khusus IRTI, atau Anda dapat memarkir kendaraan Anda di Stasiun Gambir.

Untuk dapat masuk ke bangunan Monas, Anda dapat melalui pintu masuk di sekitar patung Pangeran Diponegoro. Lalu Anda akan melalui lorong bawah tanah untuk masuk ke Monas. Anda pun dapat melalui pintu masuk di pelataran Monas bagian utara. Jam buka Monas adalah jam 9.00 pagi hingga jam 16.00 sore.

Monas dapat menjadi salah satu pilihan Anda untuk berwisata bersama keluarga dan tempat mendidik anak-anak untuk lebih mengenal sejarah Indonesia. Anda pun dapat menikmati udara segar dari rindangnya pepohonan di Monas. Dan jangan lupa untuk menjaga kebersihan Taman Monas agar tetap indah untuk dinikmati siapapun.

Kantor Pengelola Monumen Nasional Provinsi DKI Jakarta
Jl. Kebon Sirih No.22 Blok H Lt.IX No.53
Jakarta Pusat
Telp: (021) 382 3041

sumber berita: kumpulan info